Tutorial Foto Milkyway dengan Mirrorless dan DSLR

Artikel ini adalah coretan dari blog lama saya sekitar bulan Juni 2016 silam — IG @nandcep

Judulnya murahan ya? Biar gampang search di Google dan mendapat ranking di Alexa haha. Sudah setengah tahun lebih, lensa ultrawide 12mm Samyang menjadi andalan dan selalu nangkring di body Sony ∝6000 tercinta. Awal beli memang ditujukan untuk menangkap penampakan Milkyway yang konon mistis hanya muncul ketika bulan mati. So, kenapa saya menggunakan Samyang yang punya focal length 12mm f2.0?

Photo by Adinandra Dharmasurya — Bromo Penanjakan

Menurut saran para master di lapangan (please refer to Flickr), lensa yang sebaiknya digunakan adalah lensa wide (ultra-wide / fisheye) dan memiliki aperture bukaan besar. Karena object yang ditangkap itu menyerupai landscape dan foregroundnya gelap alias langit malam yang jelas low light. So agar dapat menyerap cahaya dengan baik, kudu pakai ISO besar dan low shutter-speed plus aperture yang besarnya < f4.0.

Photo by Adinandra Dharmasurya — Gunung Lawu

Kalau tidak percaya, coba cek di postingan para suhu. Sudah terbukti hehe, thanks juragan!

Nah ISO rata-rata yang digunakan untuk sensor APS-C adalah sekitar 2000–6400. Shutter-speednya di sekitar 10–20 detik. Tapi ini adalah nilai relatif ya, tergantung kondisi di lapangan apakah cahaya cukup atau kurang tapi semakin gelap milkyway semakin jos hehe. Karena milkyway selain muncul di saat bulan mati juga semakin jelas terlihat ketika tidak ada polusi cahaya di langit malam. Itulah kenapa lebih mudah mengambil gambar di pantai dan gunung yang masih belum ternodai kesuciannya oleh cahaya *halah*

Oh ya, satu lagi wajib menggunakan jarak focus manual hingga infinite (∞). Kenapa? Karena jarak bintang di langit dengan lensa kamera itu undefined atau tidak diketahui jarak sebenarnya, jadi hampir tidak mungkin untuk menggunakan autofocus karena autofocus membutuhkan pengukuran jarak. Coba aktifkan fitur peak focus jika ragu. Jika kamera support RAW, tidak ada salahnya menggunakan format RAW agar nanti saat post-edit lebih oke. Cuma ya itu, memori siap-siap membengkak.

Photo by Adinandra Dharmasurya — Bromo Penanjakan

Untuk lensa seperti yang sudah dijelaskan di paragraf awal, sebisa mungkin menggunakan lensa dengan aperture yang besarnya < f4.0 misal f1.8 atau f2.0. Manual setting dapat dicoba sendiri ya, trial and error. Untuk setting di Sony dengan kamera lain mungkin berbeda, apalagi kalau situ punya full-frame or medium format hehehehe *ngelap iler*

Photo by Adinandra Dharmasurya — Pantai Sawarna

*Extra tips 1 : bawa senter, pakaian hangat, handphone, anti nyamuk, dan teman (kalau situ jomblo).

*Extra tips 2 : untuk mengetahui fase bintang dan bulan bisa refer ke aplikasi Stellarium, cek di App Store dan Google Play.

Author: nandra

Source code, photograph, and notes. Instagram 📸 : nandcep, Steller 🏕 : nancep, and Github 💻 : nandcep

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s