Home Honda BRV ke Salatiga
Post
Cancel
Salatiga

Honda BRV ke Salatiga

Di awal bulan November kemarin akhirnya keinginan saya dan Grace terwujud untuk touring ke Salatiga dengan mobil sendiri. Maklum dikarenakan pandemi serta PPKM yang diberlakukan membuat mobilitas kami menjadi sangat terbatas. Bahkan untuk ke kantor justru lebih sering dengan kendaraan roda dua demi tidak terjebak macet yang justru semakin menggila di masa sulit ini. Beberapa hari sebelum berangkat juga punya ide untuk mereview BRV kami sebagai jawaban “apakah benar Honda BRV itu kurang pantas berada di kategori LSUV” Karena menurut segelintir sumber serta diskusi dengan beberapa teman memberikan opini yang cenderung menyudutkan mobil besutan Honda berikut ini.

Mobil Honda BRV kami merupakan keluaran tahun 2019 dengan seri Prestige. Apa sih bedanya dengan E-CVT? Sebetulnya tidak terlalu jauh secara penampakan luar yang hanya di beberapa bagian grill serta velg. Namun paling kentara adalah ketika masuk ke dalam kabin. Kenyamanan pada jok serta beberapa bagian interior berlapis kulit menjadi alasan utama kami memilih seri ini. Apalagi ketika nego dengan sales kami mendapatkan selisih harga sekitar 10 juta dari seri E-CVT. Untuk membuat jok kulit dengan tingkat kualitas yang sama paling murah setidaknya membutuhkan dana 6 juta dan masih harus bongkar demi kustom.

Dari pengalaman saya sebelumnya menjual mobil yang dikustom justru membuat harga semakin turun dari pasaran, padahal sudah dimodali dengan speaker yang lebih “nendang” dan kabin yang lebih kedap suara.

Saya pun enggan melakukan kustom karena kapok dengan masa kelam yang justru harus mengembalikan mobil ke kondisi semula sebelum dijual demi harga yang layak. Warna yang kami pilih pun netral dan khas Honda yaitu abu metalik. Sehingga jika baret halus atau penyok kecil tidak begitu terlihat hehe. Terbukti baru menggunakan sebulan sudah sempat babak belur karena kurang hati-hati ketika parkir di rumah sehingga pintu sebelah kiri penyok. Tetapi tidak terlalu kentara karena warna cat tidak cerah. Kembali lagi tentang review dari beberapa sumber, banyak yang mengatakan bahwa :

  1. BRV adalah Mobilio yang selesai fitness sehingga hanya tampilan saja yang tampak berotot.
  2. BRV masih kategori MPV bukan SUV, velgnya saja mungil dan tenaganya tidak didukung mesin turbo.
  3. Fasilitas BRV masih kalah jauh dengan SUV lain yang sekelas seperti misalnya Wuling Almaz yang tampak mewah dengan adanya sunroof.
  4. BRV dan fasilitasnya membuatnya tampak overprice dibandingkan Xpander Ultimate, Suzuki Ertiga, atau Avanza Veloz.
  5. Konsumsi bahan bakar BRV itu boros khas Honda, suspensinya keras dan kabin berisik.

Beberapa jawaban yang saya berikan sebagai pengguna awam adalah sebagai berikut.

  1. BRV memang didesain berbasis Mobilio namun secara chasis dan body tetap berbeda. Tetapi dilihat dari sudut lekuk dan dimensi tidak memungkinkan Mobilio dapat dimodif agar tampak seperti BRV. Apabila memaksakan modifikasi, lalu kenapa tidak beli BRV saja sekalian? Toh ada harga yang beririsan antara Mobilio seri RS dengan BRV yang seri low. Dari harga modifikasi ditambah harga dasar Mobilionya saya yakin akan sama dengan membeli sebuah BRV bahkan lebih mahal. Secara kapasitas mesin boleh sama, namun ibarat Supra X dengan CS1 meskipun mengusung kapasitas 125 tetapi CS1 memiliki 5 percepatan yang artinya nafas dapur pacu akan lebih panjang dibandingkan Supra X yang hanya 4 percepatan. Begitu juga dengan Mobilio apabila dibandingkan dengan BRV adalah menjadi 5 percepatan melawan 6 percepatan. Para Insinyur dan tim marketing Honda sudah memikirkannya dengan matang keleus.
  2. BRV bukan kategori SUV karena dinilai dari velgnya yang kecil dan mesinnya tidak turbo maka sebaiknya juga memikirkan apabila dibuat menjadi ukuran jumbo dan turbo apakah dapat masuk ke kategori Low SUV? Ada kata LOW yang saya beri format tebal, jika maksud hati ingin SUV yang low budget mungkin dapat melirik Wuling Almaz tetapi dengan harga selisih 15 sampai 25 juta lebih mahal. Lalu kenapa bukan Chevrolet Trax keluaran 2019 yang sedang cuci gudang tahun kemarin karena ketika ketika nego harganya sama dengan BRV? Saya jujur sedih mendengar Chevrolet sudah hengkang dari Indonesia dan beberapa bengkel rekanan di dekat tempat tinggal tidak memberikan paket servis murah. Kelebihan dari BRV justru karena ground clearancenya yang tidak lebay menjadi tidak limbung ketika di atas 120 kmpj, stabil, dan experiencenya seperti mengendarai mobil sedan.
  3. Ingin fasilitas mewah seperti sunroof, full digital, sensor elektronik, dan sebagainya dengan harga di bawah 300 juta bahkan menyentuh harga 270 juta? Apakah tidak terdengar serakah? Setidaknya sudah mendapat daya tampung 7 seater yang cukup lapang ala MPV, dandanan SUV, keyless entry dengan start engine button, dan ditunjang mesin yang mendukung mode sport sudah cukup menurut saya.
  4. Xpander menurut saya cukup menggoda, Ertiga seri baru pun juga sama hampir membuat kami berdua goyah iman. Namun seberapa jauh harga Xpander dan Veloz dibandingkan BRV? Seberapa berbeda dimensinya? Tidak terlalu jauh dan kembali ke poin 1. Dengan 6 percepatan serta jok dan furniture berlapis kulit adalah alasan yang fair untuk tetap bersama BRV jika merujuk faktor beda tipis di harga. Suara kabin berisik? Mungkin dapat mencoba mobil-mobil di kelas Low SUV dan range harga yang sama baru dapat berkomentar. Apabila ingin sangat senyap mungkin dapat beralih ke CR-V Prestige baru dengan budget yang setara dengan rumah tipe 45/90 di daerah Cibubur.
  5. Konsumi bahan bakar merupakan hal yang relatif tergantung pengemudi, kebetulan saya adalah pecinta mode Eco sehingga rata-rata km/liter sampai dengan saat ini sudah mencapai 14.9 km/liter dan akan terus bertambah irit seiring berjalannya kilometer. Efisien adalah bentuk gaya hidup. LCGC boleh diadu sih, apalagi mobil turbo.

Dari semua penjelasan di atas saya pun tidak mau hanya sekedar berbagi teori. Saya juga tidak menggunakan “andai kata” membeli mobil second, karena jika membeli mobil second sudah pasti saya dan isteri akan memilih Fortuner yang ladder frame daripada SUV biar sekalian gagah serta cocok untuk arogan ala pejabat di jalan toll.

Kebetulan Ibu saya datang ke rumah untuk berlibur sekaligus menjenguk keponakan saya. Ketika masa libur telah usai maka saya dan isteri memutuskan untuk mengantarkan beliau kembali ke Salatiga. Sekaligus test drive untuk mereview apakah memang sejelek itu Honda BRV di mata beberapa non-konsumen. Kami bertiga berangkat menuju Salatiga tepat pukul 03.50 dari rumah. Perjalanan di pagi yang masih gelap bukan halangan karena lampu mobil ditambah fog lamp sudah sangat menerangi jalanan. Berangkat dengan santai masuk ke toll saya pun menarik gas di kecepatan 90 - 110 kmpj. Suara bising roda tidak terlalu terdengar jelas, justru suara musik yang dilantunkan dari Spotify terdengar mantap pada setelan volume 23.

Selama perjalanan di jalan layang MBZ saya menarik dengan kecepatan santai di rentang yang tidak jauh beda dengan sebelumnya, sekitar 100 - 120 kmpj. Dengan kondisi subuh di mana angin bertiup kencang dan berada di ketinggian kami sama sekali tidak terasa goyangannya. Tetapi harus diakui suara gesek antara ban dengan jalan cukup terasa dan volume lagu mulai tergerus di bagian kokpit. Sedangkan ketika saya tanya ke Ibu yang duduk manis di baris tengah mengatakan suara musik masih terdengar jelas dan suara bising hanya terdengar samar-samar. Mungkin dikarenakan speaker bagian belakang yang memang lebih lapang sehingga volume musik masih terdengar lantang.

Dapat diambil kesimpulan suara berisik masih dapat ditolerir di baris kedua sedangkan di bagian depan memang terasa sedikit mengganggu tetapi tidak signifikan.

Malam sebelum berangkat saya menyempatkan untuk mengisi full tank di Shell Cibubur dengan Super 92. Total nominal sekitar Rp 280.000,- atau sekitar 25 liter. Tentang konsumsi bahan bakar saya sangat bahagia karena baru kembali mengisi bensin di Rest Area KM207A Tol Palikanci dengan kondisi bahan bakar tersisa sekitar +-55% (1 bar lebih). Saya kembali mengisi sebesar Rp. 150.000,- di Pertamina dengan Pertamax atau sekitar 16 liter. Kami lanjut beristirahat di area parkir sekitar 30 menit agar tetap fokus. AC mobil ini sangat pas dan tidak menyemburkan hawa dingin seperti kulkas. Sengaja set di suhu 23 derajat dan kekuatan kipas 2 baris. Fitur head unit mobil yang dapat diatur melalui kemudi mampu dimanfaatkan untuk mengganti lantunan lagu tanpa khawatir kehilangan fokus saat mengemudi.

Bahan kulit yang membalut jok serta kemudi BRV Prestige membuat telapak tangan tidak terasa panas, berbeda dengan grip di mobil sebelumnya. So far secara kenyamanan kami sekeluarga tidak ada masalah. Terkait safety selama perjalanan kami mengenakan seatbelt termasuk penumpang di baris tengah. Kekurangan yang terasa adalah tidak adanya colokkan USB untuk mengisi daya di baris tengah. Harus berbagi sumber daya serta tidak ada handrest di bagian depan, kedua hal ini menjadi salah satu kekurangan BRV yang sharing platform dengan Mobilio. Sebagai alternatif dapat membeli handrest BRV yang memiliki beberapa colokkan USB. Contoh produknya dapat mampir ke lapak Omextra di mana dapat dipasang tanpa perlu bongkar.

Sinar matahari sudah semakin tampak samar-samar, waktunya melanjutkan perjalanan. Dari rest area saya menarik gas di atas 120 kmpj untuk mengejar jam kantor yang setidaknya jam 11 sudah harus online di depan laptop. Perihal tanjakan saya rasa bukan masalah bagi BRV, beberapa kali mencoba mode sport untuk melahap jalanan lurus dan menanjak. Secara torsi dan tenaga sangat menggigit di jalan menanjak dan tidak “ngeden”. Jika didengarkan sekilas ketika start dari putaran rendah lalu menginjak dalam gas akan terdengar sedikit meraung. Ini dikarenakan BRV lemah di putaran bawah namun kuat di putaran atas. Gap power antar putaran ini ditujukan agar mesin tidak kehilangan momentum secara tiba-tiba ketika berada di jalan yang menanjak.

Bantingan setir dari Tegal hingga Pekalongan sangat mantap, tidak membuat penumpang mabuk karena tidak limbung. Memacu hingga 130 kmpj saya lihat lewat cermin tengah Ibu masih tertidur lelap. Apakah mungkin karena tegang jadi memilih untuk tidur ya? hehehe. Hanya Grace saja yang tetap terjaga karena menjadi co-driver selama perjalanan. Beberapa kali saya berjalan bersama Wuling Almaz dan Toyota Rush seri “konde”. Masalah tenaga dan kecepatan ternyata mesin BRV dapat mengimbangi mobil Almaz dan di tanjakan pun tidak bergeming melewati Rush yang berpenggerak belakang dengan santai. Meskipun sampai dengan di Tol Kendal, akhirnya tetap Almaz yang memiliki nafas lebih kuat dan tampak gas pol ingin meninggalkan kami.

Kami yakin pengendaranya memacu kecepatan di atas 140 kmpj, mungkin karena risih ditempel selama perjalanan.

Untuk ukuran tinggi badan saya yang sekitar 176 cm mengendarai jarak jauh dengan mobil ini tetap terasa fokus sama sekali tidak lelah. Posisi duduk tidak terlalu pendek tidak terlalu tinggi, karena dapat mengatur posisi kursi dengan memaju mundurkan serta set ketinggiannya. Begitu juga dengan kemudi yang dapat diatur tilt steeringnya. Sayang memang belum teleskopik. Dengan ukuran yang cukup bongsor maka barang bawaan banyak pun tidak terasa, apalagi di baris ketiga dapat dilipat untuk menaruh 2 koper besar serta 3 tas ransel. Melihat jam pada dashboard sudah hampir masuk pukul 10.00 ketika melewati tol Bawen. Jalanan yang lancar membuat saya tidak terlena untuk terus kebut-kebutan. Saya menurunkan kecepatan karena begitu keluar dari Tol Bawen disuguhi jalan raya antar provinsi.

Akhirnya kami pun sampai di Salatiga tepat pukul 10.30 dan dapat segera beberes barang bawaan untuk memulai aktivitas. Sebagai kesimpulan BRV sama sekali tidak mengecewakan bagi saya dan isteri. Justru sangat puas dengan kenyamanan yang pantas di kelasnya serta performanya yang tidak loyo. Irit jelas membuat dompet kami berdua bahagia karena sampai di Salatiga bensin masih tersisa sekitar +-35% dengan konsumsi 14.7 km/liter. Menurun sedikit tapi masih masuk akal dengan beberapa kali aksi kebut-kebutan bersama Almaz dan Rush sampai di dekat Kendal. Masalah fasilitas sebetulnya ada beberapa hal yang perlu dilengkapi sendiri seperti handrest, USB hub, dan bantalan kepala.

BRV lanjut ke Karanganyar menjemput Gatot

Terkait after sales Honda seperti servis dan customer support, pelayanan dealer dan bengkelnya pun juga sangat oke. Kami mendapatkan banyak bonus bahkan di service pertama juga mendapat perawatan ekstra untuk interior dengan cuma-cuma. Saya pun tidak pernah mendengar BRV kan direcall seperti halnya yang dialami oleh DFSK Glory. Baru-baru ini DFSK diterpa issue santer akan direcall karena cacat produk. Kadang yang dijual “murah” juga harus ekstra waspada terhadap kualitas. Memang LSUV satu ini tidak dilengkapi sunroof dan sebagainya, sehingga harus belajar mengenal kata bersyukur untuk paham mana yang tersier sekunder serta primer. Primer dan sekunder sudah dapat kok masih ngelunjak ingin tersier.

Dari teman-teman apakah ada rekomendasi asesoris pemanis BRV kah? atau mungkin info promo servis? Kalau ada boleh dishare ya. Salam satu aspal.

This post is licensed under CC BY 4.0 by the author.

Membaca dan Menulis

IBM Maximo – Automation Script Send Email

Comments powered by Disqus.