Home Menjelajah ke Danau Toba
Post
Cancel
Balige

Menjelajah ke Danau Toba

Sebagai tanda keseriusan saya kepada Grace ciee. Maka bulan November lalu saya berangkat ke rumah orang tua Grace dalam rangka memperkenalkan diri. Pergi ke pulau Sumatera Utara bukanlah pengalaman pertama saya, tahun 2013 hingga 2014 saya on site di Medan dan sekitarnya. Namun bedanya adalah kali ini bukan untuk dinas tapi demi masa depan membina keluarga, saya sangat grogi.

Sehari sebelum berangkat potong rambut ke barbershop dan cukup kumis serta jenggot saya. Harus tampil maksimal agar tidak membuat keluarga besar saya malu apabila nanti bertemu dengan calon mertua. Baju yang saya bawa pun sudah dipilih yang tidak lusuh dan beli baru agar lebih percaya diri.

Untuk mendapatkan harga tiket ke Kualanamu yang terjangkau maka harus melalui penerbangan dari Soekarono Hatta. Di hari H kami berangkat menggunakan kereta bandara dari stasiun BNI 46. Adalah pengalaman yang baru bagi saya. Kebetulan Grace pun juga belum pernah. Dengan kereta jauh lebih murah dan lebih hemat waktu daripada mengendarai taksi online.

Hampir 5 tahun lamanya saya tidak ke Medan, dari Jakarta menuju Medan lebih jauh daripada terbang ke Singapore. Sepanjang perjalanan saya pun memilih tidur karena butuh waktu 2 jam hingga sampai di bandara tujuan. Sesampainya di Kualanamu kami berdua makan sore di A&W. Bandara Kualanamu tampak berbeda. Awal mula bandara ini beroperasi di tahun 2014 masih sangat sepi dan belum banyak fasilitas. Mungkin hanya beberapa kedai kopi dan tempat makan franchise. Sedangkan sekarang sudah seperti mall metropolitan dengan berbagai macam toko.

Dari bandara menuju Pematangsiantar kami tempuh dengan mencari jasa travel. Jasa travel yang ada di malam hari itu adalah Taxi Paradep. Dari Kualanamu menuju Siantar dikenakan tarif Rp 60.000,- dan dapat diantarkan hingga ke depan rumah. Perjalanan darat ditempuh dalam waktu kurang lebih 4 jam. Perjalanan melalui jalanan khas Sumatera yang gelap gulita dan sepi. Kami sampai di rumah tepat pukul 23.00 malam. Udara di Siantar ternyata cukup sejuk meskipun tidak sedingin kampung di Salatiga.

Kami disambut dengan hangat dan tidak lupa memperkenalkan diri. Lega rasanya dapat berkenalan dengan calon mertua. Disambut dengan segelas teh panas serta jajanan kue. Saya langsung mandi dan bergegas beristirahat karena sudah larut malam. Keesokan paginya kami merayakan ulang tahun Bapak. Sebelum merayakan di pagi hari saya dan Grace pergi ke pasar di daerah Sutomo untuk membeli kue ulang tahun sekaligus kuliner Mie Siantar di Rumah Makan Simalungun yang direkomendasikan oleh calon isteri.

Padahal sebelum berangkat saya sudah santap semangkuk Mie Gomak dan gorengan panas. Tetapi gelora kuliner tetap tidak tertahankan.

Hari kedua makan siang di rumah Grace sangat mantap karena ada menu spesial kegemaran saya, yaitu babi panggang ala Sumatera. Namun cara masak Mamak berbeda yaitu setelah dipanggang masih digoreng bersama saksang (darah babi) hingga lebih kering dan terasa crisp. Rasanya benar-benar gurih dan luar biasa lezatnya. Setelah acara ulang tahun Bapak saya pun turut dikenalkan ke beberapa saudara yang lain agar besok ketika hari H acara besar tidak merasa asing. Sekaligus juga silaturahmi ke beberapa tetangga yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri.

Kedai Kopi Kok Tong

Beberapa tempat nongkrong hits di Siantar saya sambangi bersama Grace. Adalah Kedai Kopi Kok Tong yang kata Grace sangat cocok dengan saya yang hobi ngopi. Info dari Grace, tempat ini sudah dikelola secara turun temurun oleh pendirinya dari jaman kolonial hingga sekarang. Usaha keluarga dan memiliki 3 cabang. Namun yang paling otentik terdapat di Jalan Cipto karena terdapat di sebuah ruko dengan nuansa China Town. Sedangkan 2 cabang lainnya bernuansa kafe kekinian.

Di Kok Tong terasa nuansa tempat ngopi ala Kopi Tiam.

Di sebelah ruko terdapat toko bakpao non-halal yang menjajakan bakpao dengan rasa yang maknyus serta porsi yang sangat besar.

Di malam minggu saya dan keluarga Grace menyempatkan waktu untuk berwisata bersama ke danau Toba. Kebetulan Bapak ingin sekali jalan-jalan karena sudah lama tidak beraktivitas untuk travelling. Dikarenakan juga saya sedang berkunjung, beliau pun ingin mengantarkan saya mengenal beberapa obyek wisata yang ada di daerah Balige. Dekat dengan tempat di mana Grace menempuh studi diplomanya di Universitas Del. Di tengah perjalanan kami berkunjung ke keluarga sekaligus silaturahmi dan memperkenalkan diri saya.

Lumban Bulbul Balige

Pantai yang kami kunjungi pertama kali adalah Lumban Bulbul Balige. Meskipun disebut dengan pantai, namun daerah ini sebetulnya bagian dari danau Toba. Dikarenakan kondisi alamnya yang tampak seperti pantai (permukaan air yang sangat luas, sisi daratan yang berpasir, dan suara debur ombak dikarenakan angin) maka masyarakat sekitar menyebutnya sebagai pantai. Tempatnya bersih dan tampak sepi hampir tidak ada pengunjung. Ini merupakan pengalaman pertama saya menghampiri danau Toba di Kota Balige.

Di Lumban Bulbul saya dan Grace menelusuri pesisirnya sambil melihat luasnya danau Toba. Dari kejauhan kami dapat melihat pulau Samosir dan daratan Parmonangan. Kapal-kapal nelayan berseliweran mencari ikan dan tidak tampak banyak pengunjung yang datang. Sehingga beberapa sampan sewaan tampak menganggur di pinggiran. Mamak dan Bapak memilih bersantai di warung sambil menikmati teh panas. Sesekali kami ajak berfoto bersama.

Untuk tanda kami pernah berkunjung di tempat ini, saya pun asik berfoto. Sekaligus test drive kamera dari Nokia 8. So far saya merasa hasil jepretan Nokia 8 tidak memuaskan. Saya justru jadi rindu sekali dengan iPhone 6S. Biarpun single camera tapi optimal dan sesuai selera saya.

Pulang dari Lumban Bulbul, tidak lama setelah mobil melaju kami menyempatkan untuk mampir di Universitas Del. Kampusnya sangat luas dan dikelilingi oleh pemandangan danau Toba yang indah sehingga pastinya apabila penat di asrama setelah ujian semester dapat sembari menenangkan pikiran singgah di pinggiran danau. Selain itu banyak sekali tanah lapang sehingga banyak ruang terbuka untuk mahasiswa agar dapat beraktivitas di luar.

Universitas Del merupakan salah satu universitas swasta yang menjadi favorit putera-puteri daerah. Salah satu program studi yang sudah dikenal di lapangan kerja adalah Fakultas Teknik Informatika. Banyak teman-teman di tempat kerja saya yang merupakan alumnus dari tempat ini. Di jaman Grace dulu menempuh kuliah hanya ada program diploma, namun saat ini sudah ada program D4 / S1. Salah satu langkah mencerdaskan bangsa dan pemerataan intelektual. Sayang sekali jika harus pergi ke pulau Jawa hanya untuk bersekolah.

Pesanggrahan Soekarno

Destinasi wisata berikutnya adalah Pesanggrahan Soekarno di daerah Parapat. Menurut fakta dan sejarah, di tempat ini presiden pertama Indonesia yaitu Pak Karno diasingkan selama 2 bulan. Tepatnya setelah beliau tertangkap pada agresi militer Belanda yang pertama. Di sekitar Pesanggrahan ini terdapat beberapa penginapan dan wisata kuliner khas Batak. Sehingga bagi pengunjung yang beragama Muslim harus dapat memilih dengan bijak.

Kita dapat bersantai dengan menyewa tikar dan berpiknik di sekitar lahan rumput yang ada di tempat ini. Tepat di dekat parkiran mobil terdapat sebuah bukit yang menjadi spot foto. Selain terdapat sebuah gazebo yang ikoni di spot foto tersebut, kita dapat duduk sembari menikmati pemandangan memukau danau Toba dari ketinggian. Ditemani angin yang sepoi-sepoi saya duduk di gazebo tersebut bersama Grace melihat pulau Samosi yang tampak jelas dari tempat kami duduk.

Dari kejauhan kami melihat ada beberapa kapal yang hilir mudik mengantarkan para penumpang dari daratan menuju ke pulau Samosir. Kapal yang digunakan pun tampak besar dan memuat truk serta kendaraan pribadi. Jika di Lumban Bulbul kondisinya sepi, di tempat ini kebalikannya. Sangat ramai dikunjungi oleh para wisatawan. Apabila lapar dan ingin menyantap makanan di tempat ini terdapat banyak warung yang siap menyajikan makanan instan seperti Pop Mie hehe. Makanan instan sejuta umat yang selalu ada di setiap obyek wisata.

Di bawah tebing terdapat tempat bersantai tepat di sisi dermaga yang menyediakan jasa speedboat untuk mengitari danau Toba. Namun kami enggan mencoba karena tidak membawa baju ganti

Indahnya Toba

Puji Tuhan saya dapat berkelana ke Danau Toba di daerah Parapat dan Balige bersama Grace dan keluarga. Syukur saya panjatkan terlebih karena juga dapat berkenalan dengan keluarga besar Bapak dan Mamak. Terimakasih Bapak dan Mamak yang menyempatkan waktunya untuk meninggalkan rutinitasnya sejenak demi menemani dan mengantarkan saya berjalan-jalan. Saya merasa disambut seperti anak mereka sendiri. Doakan di tahun ini saya dan Grace berencana untuk melangsungkan acara pernikahan kami. Semoga rencana dan keinginan kami dilancarkan. Yang pasti juga berharap dapat memiliki kesempatan untuk berkunjung lagi ke danau Toba.

This post is licensed under CC BY 4.0 by the author.

Liburan ke Bali

Spot Foto di Salatiga

Comments powered by Disqus.