Home Ngetrip di Masa Pandemi
Post
Cancel
Batagor Hanjuang, Bandung

Ngetrip di Masa Pandemi

Memang tantangan dari pandemi adalah bagaimana caranya agar tetap survive. Baik survive dalam hal kesehatan fisik, ekonomi finansial, dan juga salah satunya yang menurut kami berdua yang cukup sulit adalah menjaga mental karena perubahan kebiasaan. Awal tahun ini saya dan Grace memutuskan untuk berlbur ke Bandung. Jenuh setelah kurang lebih 7 bulan lebih kami terisolir tidak dapat banyak berkumpul dan beraktivitas di luar. Sejujurnya pandemi Covid-19 memang merubah gaya hidup kami.

Rutinitas saya di kantor ketika non pandemi adalah absen, buka laptop, dan tidak menunda pekerjaan agar dapat bersantai sebelum makan siang. Jam 11 jika tidak ada meeting dan kerjaan sudah mulai longgar maka saya dan teman-teman mampir ke basement untuk membeli kopi dan nongkrong sampai selesai makan siang. Sepulang kerja bersama Grace juga menyempatkan jajan kuliner di daerah dekat Pancoran yang lumayan gemerlap murah meriah. Atau terkadang “anak komplek” mengajak kumpul di sekitaran SCBD. Di weekend pun juga pasti kami berdua pergi entah ke Mall atau sekedar ngopi cantik sembari berbelanja kebutuhan mingguan.

Benar-benar aktivitas tersebut menurun drastis intensitasnya karena diberlakukan work from home (WFH), pergi ke Mall dan ngopi cantik di weekend juga sudah tidak pernah sesuai anjuran pemerintah. Saya benar-benar lupa rasanya duduk di sudut kedai Starbuck sembari numpang akses internet. Menyeruput nikmatnya cold brew yang harga coretnya cukup miring setelah menggunakan kartu kredit Mandiri eits sekalian numpang promo ya. Bahkan keinginan pulang kampung ke Siantar tahun lalu pupus sudah karena keterbatasan moda transportasi dan setahu saya wajib ritual tes swab untuk setiap melakukan perjalanan baik dalam kota ataupun luar kota.

Karena kebetulan di awal Januari kami lihat sudah mulai ada pelonggaran seusai nataru (Natal dan Tahun Baru), iseng untuk membuka aplikasi Traveloka. Kami terkejut dengan harganya yang sangat murah, dalam hati bergumam “benar-benar anjlok keadaan industri pariwisata kita” Saya pun berdiskusi dengan Grace apakah ingin pergi ke Bandung untuk menginap di daerah Lembang dan di tengah kota, durasi liburannya pun tidak lama hanya sekitar 2 hari. Sekedar untuk healing dan kuliner. Kami berdua sama-sama jenuh dan rindu berlibur.

Keadaannya berbeda dengan touring kami di November tahun lalu di mana tidak ke tempat umum kecuali sudah terkonfirmasi memang tempat tersebut sepi dari pengunjung. Makan pun dari pagi hingga malam di rumah Ibu sudah disiapkan oleh asisten rumah tangga, sesekali pesan lewat Go-Food untuk tetap membantu perputaran ekonomi bersama.

Ada keuntungan tersendiri sebetulnya dari pemberlakuan WFH, yaitu adalah dapat mengakses workspace di kantor selama ada akses jaringan VPN. Tanpa khawatir tidak dapat melanjutkan pekerjaan karena sudah serba “online”. Tentunya selama sinyal tersedia. Kultur bekerja berubah, yang penting bukan presensi di lapangan namun adalah yang penting merespon dengan cepat. Tidak perlu takut harus pergi ke kantor tiba-tiba untuk sekedar meeting. Hampir semua kegiatan tatap muka melalui platform Microsoft Teams dan Google Meet yang juga dapat diakses melalui smartphone. Kultur yang memungkinkan kami dapat healing sembari bekerja.

Dari beberapa akun Instagram teman yang sempat berlibur di kala pandemi maka kami pun mendapatkan beberapa hal penting yang harus disiapkan dari mereka. Tidak hanya fisik ya, namun juga ijin serta perlengkapannya apabila menginap di luar. Apa saja sih yang kira-kira perlu dipersiapkan dengan baik?

Ijin Lingkungan Kerja

Sebagai insan pekerja professional kami berdua memberi kabar ke atasan apabila akan bekerja dari luar rumah, agar terinfo bahwa kami melakukan aktivitas di luar dengan sepengetahuan mereka. Demi kenyamanan dan keamanan bersama. Kebetulan saya juga bekerja sebagai team lead dan subject matter expert di beberapa produk kantor sehingga wajib menginfokan kepada anggota team agar tetap terkoordinasi dengan baik. Bagi yang bekerja secara individu atau mungkin wiraswasta tidak adalah salahnya juga menginfokan kepada rekanan atau klien agar aware bahwa kita sedang melakukan aktivitas di luar agar sama-sama tahu kondisinya apabila tidak dapat bertatap muka secara langsung.

Surat Hasil Tes

Mendukung program pemerintah agar pandemi ini dapat terkontrol dan termonitor maka tes swab wajib dilakukan. Syarat di tempat kami menginap juga mewajibkan untuk melakukan tes setidaknya 2 hari sebelum check-in. Tes swab dapat dilakukan di klinik atau rumah sakit yang telah terverifikasi. Jangan lupa membawa hasil tesnya dan harus dapat menahan diri apabila hasilnya tidak memungkinkan untuk beraktivitas. Karena kami berdua, maka setiap orangnya wajib tes swab dan bukan diwakilkan oleh salah satu anggota keluarga. Jika sudah tes ada baiknya difoto copy atau scan.

Dianjurkan tes swab tidak hanya sebelum berangkat namun juga setelah kembali, agaknya tes swab adalah bentuk gaya hidup. Memang jika terlalu sering menjadi lumayan pengeluaran kita, maka dari itu harus efisien dan bijak ketika beraktivitas

Perlengkapan Wajib

Wajib sekali untuk mempersiapkan peralatan berikut agar meminimalkan hal buruk yang dapat terjadi apabila menginap di luar :

  1. Alat mandi seperti sabun, sikat gigi, shampo, dan handuk pribadi. Sebaiknya tidak menggunakan handuk yang telah disediakan penginapan, bukan karena tidak percaya namun sebagai bentuk rasa waspada.
  2. Hand sanitizer
  3. Tissue basah dan tissue kering
  4. Masker kain sehari sekali ganti, sehingga apabila menginap 2 hari setidaknya membawa 3 hingga 4 masker kain per orang.
  5. Masker KN95 yang sehari ganti 2x apabila banyak berkegiatan di luar. Grace selalu siap satu dus kecil agar tidak takut kehabisan.
  6. Pakaian tertutup dan bukan yang mini agar permukaan kulit terlindungi. Saya sendiri selama berlibur di Bandung menggunakan kaos lengan panjang serta celana training.
  7. Alat makan minum pribadi seperti tumblr, sendok garpu, dan box makan. Tidak lupa Grace juga menyiapkan air mineral 1.5 liter sebelum berangkat agar tidak perlu ke swalayan demi mengurangi interaksi.
  8. Obat-obatan pribadi dan minyak kayu putih.
  9. Pakaian ganti yang cukup, sehabis dari luar langsung mandi dan ganti.
  10. Perlengkapan kerja, pengisi daya, dan power bank.

Dokumen

Kenapa harus menyiapkan dokumen? Sepertinya terlalu formal ya. Namun dokumen di sini adalah KTP, SIM, dan tanda identitas lainnya yang wajib siap siaga di dompet. Berguna apabila semisal ada razia. Selain itu ketika terjadi hal yang tidak terduga seperti harus ke rumah sakit maka tidak ada salahnya membawa kartu asuransi dan BPJS kesehatan. Kami berdua selalu scan dan membackup dokumen kami di cloud (dengan akses private tentunya) agar dapat diakses secara on the go apabila diperlukan.

Dompet Digital

Ada baiknya mengurangi aktivitas transaksi dengan tunai di masa pandemi karena uang adalah satu bentuk media interaksi. Maka dari itu selama kami berdua melakukan transaksi dengan jasa dompet digital seperti LinkAja, Go-Pay, dan OVO di gerai pembayaran. Mobile banking juga siap di smartphone apabila harus melakukan transfer antar bank. Memang fitur QR sangat membantu agar tetap dapat bertransaksi dengan cepat dan nyaman bahkan di beberapa tempat parkir sudah mendukung QR scan.

Kebetulan ketika di mengisi di SPBU Shell harus menggunakan kartu kredit Mandiri agar mendapatkan diskon harga sebesar 25%, numpang promosi. Untungnya minim kotak fisik karena kartu kreditnya dapat ditransaksikan tanpa PIN, cukup tap dan terkonfirmasi ke WhatsApp sehingga aman serta terpercaya.

Namun apabila ternyata mengharuskan dengan semi tunai, maka mungkin dapat gesek kartu debet jika nominal transaksinya memenuhi syarat. Bukan berarti karena sudah menggunakan dompet digital lalu tidak sedia cash di dompet. Tetap selalu sedia cash secukupnya semisal untuk bayar tukang parkir. Di mobil saya juga menutup rapat tempat uang untuk bayar parkir dan tidak lupa membersihkan tangan dengan handsanitizer setelah bertransaksi karena Grace selalu rajin mengingatkan.

Kesimpulan

Dari poin-poin di atas yang telah kami coba untuk terapkan selama kemarin di Bandung 3 hari 2 malam, ternyata tidak sulit untuk dilakukan. Kami berdua menghampiri beberapa obyek wisata serta menikmati kulinernya dengan gaya hidup yang baru. Memang di awal pasti merasa “kok aneh, kok jadi begini, dan kok jadi begitu”. Dengan memberi waktu untuk adaptasi kami merasa justru banyak pola yang semakin efisien dan efektif.

  1. Banyak tempat parkir di obyek wisata yang sudah menerapkan eMoney dan bahkan QR Scan untuk pembayaran serta less touch pada mesin tiket dengan sensor. Sehingga justru lebih cepat aksesnya.
  2. Ketika makan di Iga Bakar si Jangkung, total biaya makan kami berdua tidak memungkinkan untuk menggunakan gesek kartu debet karena di bawah Rp. 100.000,- Namun untungnya masih dapat menggunakan QR untuk nominal di bawah itu, tanpa cash.
  3. Beberapa tempat makan yang ingin kami berdua tuju ternyata sangat ramai, sehingga untuk tetap dapat menikmatinya kami memesannya via Go-Food dan menyantapnya di penginapan. Mie Kocok dan Sate Kelinci dapat kami nikmati meski tidak langsung di tempatnya, setidaknya cita rasa dari tangan asli pembuatnya tetap dapat lah. Cocok juga bagi yang ingin mencari oleh-oleh tanpa perlu datang langsung ke toko.
  4. Beberapa tempat makan “tradisional” seperti Batagor Hanjuang yang kami kunjungi sudah menyediakan pengiriman online agar dapat menjangkau lebih luas dan pembayaran digital agar ringkas. Membuat para pelaku usaha juga lebih aman kasnya karena tidak banyak menyimpan uang tunai, di masa pandemi tingkat kriminal semakin tinggi.

Justru karena tidak perlu mengunjungi setiap tempat secara offline, maka kami berdua dapat menghabiskan waktu di kafe yang sepi untuk bekerja secara work from anywhere selama di Bandung. Tampaknya perubahan pola offline menuju digital membuat umat manusia berpikir maju ke depan agar lebih ringkas. Semua butuh waktu semua butuh proses, jadi rekan-rekan sendiri sudah jalan kemana selama pandemi? Semoga tetap dapat membuka laptop sembari healing dengan mengikuti prokes ya.

This post is licensed under CC BY 4.0 by the author.

IBM Maximo – Automation Script Send Email

1001 Candi dari Medang untuk Indonesia

Comments powered by Disqus.