Home Pendakian Gunung Gede
Post
Cancel
Gunung Gede

Pendakian Gunung Gede

Awal bulan Juni lalu saya dan teman-teman kantor tuntas menjalankan misi hiking ke Gunung Gede. Adalah kali kedua saya mendaki ke gunung tersebut. Sebelum memulai perjalanan tidak lupa menyiapkan fisik selama satu bulan. Lari sore sejauh 4 sampai 5 kilometer setidaknya satu kali seminggu. Terakhir perjalanan mendaki jika tidak salah di tahun 2017 ke Gunung Guntur di Kota Garut. Saat itu pun berat badan masih sekitar 68 kilogram, sedangkan sekarang sudah hampir mencapai 80 kilogram akibat terlena duduk ngopi jarang beraktivitas.

Mendaki di kala pandemi Covid 19 juga mewajibkan untuk menjalankan prokes dengan ketat seperti menjaga jarak, mengenakan masker, dan siap sedia hand sanitizer. Sepulang dari pendakian saya pun juga melakukan test swab dan isolasi mandiri selama 3 hari meskipun negatif.

Membagi beban perlengkapan sebagai seorang sepuh di tim maka saya menolak membawa barang yang berat. Sehingga hampir semua barang dibawa oleh Adi dan Yan. Saya hanya berbekal tas outdoor Eiger 45 liter yang diisi dengan pakaian ganti, tempat makan dan minum, sleeping bag, matras bekas pendakian ke Lawu, dan jas hujan. Sleeping bag juga baru beli di hari H, karena ternyata sleeping bag lama sudah buluk dan bau kotoran tikus akibat diletakkan dengan sembarangan di gudang rumah. Untuk membantu tim,setidaknya saya sudah berkenan membawakan satu tenda hehe.

Jalur pendakian yang dipilih adalah lewat Cibodas, kenapa tidak lewat Putri? Karena di tahun 2016 sudah pernah mendaki melewati jalur tersebut. Sengaja pada pendakian sebelumnya tidak menuliskan catper karena termakan oleh kesibukkan proyek di kantor sehingga banyak detail yang benar-benar saya sendiri tidak ingat, mungkin juga dikarenakan mendaki lewat jalur tersebut kurang berkesan. Jalannya menanjak melewati hutan monoton tanpa ada view selain pohon tinggi yang menjulang. Somehow teringat dengan Patak Banteng di Dieng.

Mendaki ke Gunung Gede juga butuh SIMAKSI (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi). Pada pendakian sebelumnya ke Gunung Gede disiapkan oleh Mas Widi dan pada pendakian ini disiapkan oleh Adi. Pastikan berangkat dengan rekan-rekan yang berpengalaman dan banyak channel seperti mereka berdua agar mudah perijinannya.

Kembali tentang Jalur Cibodas, tidak salah memilih mendaki lewat jalur ini. Karena memiliki banyak view yang berbeda dengan gunung lain selama perjalanan. Nanti akan saya bahas satu-per satu. Kami berkumpul di kantor tepat hari Jumat, meskipun saat itu sebetulnya adalah jadwal saya untuk WFH. Saya pun memilih berangkat agak siang mendekati jam sholat Jumat agar jalanan sepi sembari mampir ke toko outdoor. Membeli sleeping bag yang alasannya sudah dijelaskan pada paragraf kedua. Sesampainya di kantor segera menyembunyikan tas agar tidak terlihat oleh kepala group kami.

Adzan maghrib berkumandang selepas jam kantor. Kami pun checklist kembali barang bawaan kami. Adi sebagai pembawa perangkat konsumsi, Yan juga sebagai pemandu, Ipang sebagai supporter, dan saya sebagai penggembira. Sengaja tidak membawa air mineral dari kantor karena dirasa lebih baik beli di perjalanan menuju basecamp agar ringkas. Setelah dirasa lengkap tidak kurang secuil apa pun, langsung berangkat ke rumah Mbak Sherly (kepala departemen kami) di Bogor untuk meminjam mobilnya, diantarkan oleh Pak Bagus driver kantor. Jalanan menuju Bogor di weekend memang luar biasa macetnya via Jagorawi, apalagi tepat setelah jam pulang kerja.

Tidak lupa sebelumnya saya juga menitipkan motor kepada Sugeng yang sayangnya tidak jadi ikut di pendakian ini karena merasa kurang persiapan.

Sesampainya di rumah Mbak Sherly kami pun leyeh-leyeh, saya bahkan masih membuka laptop untuk menyempatkan diri tanda tangan absensi bebebrapa anggota tim di kantor. Selesai bekerja langsung menutup laptop dan menitipkannya di kamar Adi, selamat tinggal pekerjaan gumam dalam hati. Jamuan makan malam dimsum plus bala-bala panas dengan Teh Pucuk Harum dingin agar tidak perlu jajan di perjalanan sembari menunggu pukul 21.30. Asik berdiskusi dengan Mbak Sherly serta teman-teman tidak terasa sudah waktunya kami berangkat. Kami memasukkan barang ke mobil Mbak Sherly.

Perjalanan menuju basecamp dimulai melewati jalanan Puncak. Belum lama keluar dari perumahan ternyata memang benar adanya bahwa Adi seorang gondes sejati. Daging kambing untuk santap di gunung lupa dipacking dan tertidur pulas di freezer kulkas. Mungkin karena kami kualat setelah menertawakan BoBoiBoy di lampu merah. Mumpung belum terlalu jauh dari rumah Yan bergegas putar arah kembali ke rumah untuk mengambil daging kambing yang amat sayang apabila tertinggal. Setelah mengambilnya kembali melanjutkan perjalanan.

Perjalanan malam dan seharian di kantor tidak membuat mata saya lelah justru semakin aktif. AC mobil yang dingin membuat lelah susah hinggap di mata. Tidak lupa mampir ke warung untuk membeli madu sachet sebagai booster di pendakian nanti. Ipang anak muda yang seharusnya bersemangat justru sedang galau kelabu dan memilih tidur selama perjalanan. Hatinya sedang gundah gulana memikirkan masa depan. Sedangkan kami bertiga tetap terjaga sembari ghibah. Sesampainya di Puncak kami pun mampir ke Indomaret untuk belanja camilan dan air mineral. 7 botol air mineral 1.5 liter, 2 botol air mineral 600 ml, sosis, beserta satu plastik besar camilan lainnya diboyong ke dalam mobil.

Tidak jauh dari Indomaret, sekitar 30 menit perjalanan sudah sampai di parkir Basecamp. Hari Sabtu tepat pukul 00.30 dini hari. Dinginnya malam di ketinggian membuat kami segera melarikan diri ke warung Mang Id sesuai arahan Adi. Menurut Adi warung Mang Id merupakan rekomendasi dari situs pendakian karena menyediakan tempat istirahat yang cukup luas dan menyediakan makan minum selama 24 jam. Sayangnya karena tempat tidurnya adalah area terbuka justru membuat kami sulit tidur dan bergidik kedinginan. Sulit memejamkan mata akhirnya saya mengajak Adi menyantap mie instan panas yang cocok di udara dingin.

Saat bersantap dan asik mengobrol dengan dialek Jawa, ada mas-mas yang merasa satu rumpun menyela mengajak ngobrol ngalur ngidul. Salah seorang dari mereka bercerita mengenal si Pak A, Pak B, hingga Pak Z di kota asal saya. Yang padahal toh saya tidak kenal juga siapa bapak-bapak yang disebut dan apa juga urusannya.

Sontak dalam hati kami pun merasa awkward dan kembali ke kasur. Hanya dapat tertidur sekitar 1.5 jam dan sempat terbangun karena kaget dengan udara dingin yang menyelimuti kaki. Alarm menyala, mengingatkan untuk menyapa isteri lewat telepon. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 06.00 pagi. Kami pun bangun satu per satu ke toilet dan mencari tempat untuk bilas badan. Tidak lupa membeli sarapan di warung, ingat sarapan sangat penting. Saya menggerakkan badan dan mengatur nafas untuk menyesuaikan tubuh dengan lingkungan.

Tepat pukul 07.00 pendakian resmi dimulai, tidak lupa diiringi dengan baca doa dan ritual selfie. Melintasi jalan menuju gapura pintu masuk Cibodas kami melihat banyak warung lain yang tampak lebih proper daripada warung di tempat kami menginap karena menyediakan kamar tertutup untuk beristirahat sebelum mendaki. Bukan tempat terbuka yang dingin, so bagi yang tidak tahan dingin sebaiknya dapat mempertimbangkan beberapa pilihan lain. Tepat sebelum berangkat Adi menyempatkan membeli beberapa bungkus nasi untuk makan malam.

Dari parkiran basecamp menuju gapura masuk ternyata lumayan jauh jaraknya. Butuh waktu sekitar 15 menit dengan berjalan kaki, keringat mulai bercucuran padahal belum masuk ke jalur pendakian yang sesungguhnya. Di pos gapura Adi ditunjuk sebagai ketua kelompok untuk mengisi buku daftar pendaki sekaligus menunjukkan SIMAKSI yang telah disiapkan jauh sebelum hari H.

Untungnya matahari masih bersahabat dan panasnya tidak terlalu menyengat. Nafas masih panjang dan penuh semangat. Dari pos tersebut kami mulai berjalan santai menuju arah air terjun Cibereum karena jalurnya menjadi satu. Perjalanan didominasi jalanan batu dan tanah yang padat. Cukup lebar sehingga tidak perlu takut bersenggolan ketika berpapasan dari lawan arah. Suasana saat itu cukup ramai karena weekend. Selain kami cukup banyak para pendaki serta wisatawan taman nasional yang akan berangkat tracking ringan menuju air terjun.

Melewati jalur Cibodas pada awal perjalanan mengingatkan saya ketika outing kantor di Hitachi tahun 2015. Saat itu harus tracking jalan lumayan jauh sekitar hampir satu jam untuk mencapai air terjun tersebut. Pada pendakian ini jalur yang saya lewati ternyata masih sama dan tidak berbeda ketika outing di kantor lama. Jalurnya terawat dan bersih, hampir tidak terlihat ada sampah yang dibuang sembarangan. Mungkin karena dirawat dan diawasi langsung oleh Perhutani. Suasananya pun teduh sekali karena di kanan kiri terdapat vegetasi hutan yang cukup lebat.

Suasana yang sunyi dan terdengar suara burung-burung berkicau. Playlistnya meriah dan terasa back to nature. Seperti mengikuti sesi terapi dengan media alam. Aromanya pun berbau harum kayu hutan yang basah serta lembab. Sesekali karena vegetasinya yang cukup rapat dan teduh ketika angin berhembus justru malah terasa dingin. Untungnya mengenakan kemeja flanel yang cukup tebal untuk menahan dingin. Selama ada spot menarik wajib menyempatkan waktu untuk berfoto ria seperti misalnya di jembatan beton menuju air terjun.

Berhenti untuk berfoto adalah salah satu cara mengistirahatkan badan dan pikiran agar tidak cepat lelah. Mumpung cuaca cukup bersahabat, latar belakang gunung dan hutan tentunya jangan sampai dilewatkan. Tidak jauh dari jembatan kami terdapat percabangan antara menuju jalur pendakian dan menuju air terjun. Kami mengambil jalan ke kiri menuju jalur pendakian. Medannya masih bersahabat, meskipun jika dirasakan sebetulnya memang terus menanjak tetapi tidak frontal. Dari beberapa sumber menyatakan bahwa jalur Cibodas jauh lebih lama daripada jalur Putri. Kira-kira butuh waktu sekitar 8 hingga 12 jam untuk sampai puncak (dengan catatan kondisi tubuh fit).

Dominasi kondisi selama kurang lebih 2.5 jam berjalan berupa jalur tanah dengan bebatuan ala anak tangga yang memudahkan ketika mendaki. Vegetasi hutan rapat serta lembab membuat batuannya sedikit berlumut, terasa sedikit licin dan harus berhati-hati. Di tengah perjalanan tersebut melihat sebuah pemandangan unik di sisi kiri jalur. Sebuah kolam yang terbentuk di tengah hutan alibat aliran sungai yang meluap. Dan mungkin juga karena hujan lebat selama setahun terakhir. Dikelilingi oleh nuansa hijau teduh serta dipinggirnya ada sedikit tanah lapang yang dapat kami manfaatkan sebagai lahan berfoto ria sembari melemaskan otot. Terlihat juga monyet-monyet melompat di atas dahan dan barisan burung yang berwarna-warni dengan suara merdunya.

Background kolam tersebut sangat cantik untuk diabadikan sebagai latar belakang foto selfie kami. Setelah puas beristirahat dan minum agar tidak dehidrasi, tidak berlama-lama kami pun bergegas kembali melanjutkan perjalanan. Selepas kolam tersebut jalur batu mulai menghilang berubah menjadi hamparan tanah padat. Untungnya tidak berlumpur dan kokoh ketika dipijak. Memang benar adanya jalur ini adalah jalur naga. Meskipun tidak curam namun membosankan karena sudah berjalan lama namun tidak segera sampai ke pos selanjutnya.

Jauhnya medan perang membuat tenaga saya terkuras habis di jalanan naga tersebut. Menahan berat badan yang sudah mulai tidak ideal di beberapa tanjakan membuat kaki pegal serta kehabisan nafas. Waktu sudah menunjukkan pukul 13.30. Sudah 3 jam perjalanan dilalui semenjak beristirahat di kolam hutan. Kembali saya minta break untuk menghela nafas. Tips mendaki di jalur Cibodas adalah jangan sampai terpisah dari rombongan. Beberapa kali kami ditanya oleh pendaki lain yang menanyakan apakah melihat rekan mereka. Sehingga apabila satu anggota berhenti untuk beristirahat yang lain pun sebaiknya mengikuti.

Untuk menghidupkan semangat selama perjalanan Adi menyetel lagu khas anak Indie lewat speaker wireless

Tiba-tiba sempat gerimis ringan yang membuat kami terpaksa harus membuka rain cover agar carrier tidak basah. Setelah 30 menit kami berjalan dari titik peristirahatan terakhir, kembali dipaksa melewati jalur yang cukup epic di Gunung Gede. Untuk sampai di Pos Air Panas harus berjalan di atas batu yang melintang di sepanjang sungai, air sungainya adalah air yang sangat panas seperti mendidih. Selain itu di sisi sebelah kiri juga terdapat air terjun kecil yang cipratan air panas serta uapnya cukup membuat kulit terasa perih dan kacamata berembun. Maklum karena daerah ini adalah sumber air panas akibat aktivitas geotermal.

Sebagai alat bantu pendakian mungkin ada baiknya juga menggunakan tracking pole agar dapat menempuh jalur panjang di Cibodas dan tidak melintas jalur air panas ketika sudah gelap karena takutnya terpeleset terbawa arus.

Setelah melintasi rintangan sungai yang mendidih kami berjalan santai menuju pos berikutnya. Disuguhi pemandangan unik, terdapat air terjun yang tidak terlalu tinggi serta mengalirkan air hangat. Tidak ingin melewatkan kesempatan saya segera mencopot sepatu dan merendam kaki ke air panas tersebut agar otot yang tegang kembali rileks. Sebaiknya jangan merendam kaki di sungai yang sebelumnya karena selain arusnya yang kuat, saya rasa mie instan pun dapat direbus di tempat itu.

Selama beristirahat di Pos Air Panas kami menyempatkan diri mampir ke warung untuk membeli makan siang. Selama tracking di gunung ini pula kami pesta-pora gorengan serta kopi panas karena ada banyak pedagang yang stand by di beberapa titik. Menjadi pertolongan pertama apabila darurat air mineral. Dari pos tersebut untuk menuju Kandang Badak dan bermalam setidaknya memakan waktu sekitar 2.5 jam dengan jalan santai. Kenapa tidak langsung ke puncak? Karena untuk mencapai puncak dengan tenaga kami yang sudah “senin kamis” setidaknya paling cepat mungkin tengah malam baru sampai.

Jalur tanjakan ekstrim pun mulai mendominasi, mirip dengan jalur menuju Pos 4 gunung Lawu di mana ada beberapa titik lajur arah ke puncak yang dibuat spiral mengitari punggung gunung agar tidak rawan longsor. Benar-benar kaki dipaksa untuk mendaki undakan tanah yang tinggi. Untung ada Yan di depan untuk memilih pijakan dengan bijak agar kami cukup mengikutinya saja. Waktu sudah mulai sore, saya dan Adi lebih sering meminta berhenti 10 menit untuk sekedar menarik nafas. Kalau Adi tidak heran meminta break sebentar karena barang bawaannya sebagai “tukang angkut-angkut” sangat banyak. Kalau saya? Karena jarang berolah raga tentunya.

Waktu di jam tangan hampir menunjukkan pukul 17.00, botol air mineral tersisa 4 botol dari 7 botol. Berharap nanti di Kandang Badak dapat mengisi ulang botol kosong tersebut untuk memasak. Kurang lebih 40 menit menerabas di tengah hutan tiba-tiba jalurnya berubah menjadi lahan datar yang cukup lapang. Akhirnya sampai juga di Pos Kandang Badak untuk bermalam. Segera mencari tempat yang muat untuk mendirikan tenda. Tenda saya dan Ipang dengan mudah didirikan karena tipenya simple dome, sedangkan tenda milik Yan sedikit lebih rumit mirip punya Ari yang ada aktivitas tali menalinya tetapi lebih kokoh apabila diterpa badai.

Segera menata barang di dalam tenda, saya dan Ipang buru-buru ke toilet karena sudah menahan diri selama perjalanan. Sekaligus menyempatkan diri untuk membersihkan badan meskipun sebetulnya sekedar cuci badan ala kadarnya. Di Kandang Badak tersedia fasilitas toilet serta mata air sehingga pasokkan air harusnya aman. Airnya sangat dingin, ketika mengguyurkan air ke badan langsung menggigil dan kulit tangan menjadi keriput. Tidak lupa langsung mengisi beberapa botol kosong untuk membuat kopi panas.

Saat hendak membuat kopi panas ternyata ada tim pendaki lain yang butuh pinjaman tabung gas untuk memasak makanan, kami pun meminjamkan tabung gas karena masih memiliki spare. Tidak disangka tim pendaki tersebut menyuguh saya dengan segelas kopi panas. Kompaknya kebersamaan antar pendaki. Pastikan tidak gaduh karena kami sempat ditegur oleh pengurus area perkemahan, tidak diperkenankan menyetel musik dengan speaker bluetooth. Hanya sayang cara menegurnya agak kurang sopan menurut saya.

Menikmati senja hingga akhirnya terlelap oleh gelap langit maghrib. Syahdu duduk manis dengan minuman hangat. Sayang tidak ada sinyal untuk memberi kabar isteri. Malam harinya kami segera membuat makan malam dan menyeduh minuman. Yan membuat wedang jahe, Ipang teh, saya lagi-lagi kopi. Nasi goreng kambing yang panas pun tersaji lewat tangan handal chef Adi.

Meskipun waktu baru menujukkan pukul 20.15, seusai makan kami bergegas istirahat. Rasanya lelah sekali karena sudah lama tidak bergerak non-stop seperti ini.

Tidur di tengah hutan ada keuntungannya meski tidak dapat hunting Milkyway. Yaitu adalah tidak terlalu terasa dingin karena dera angin tertahan oleh dahan-dahan pohon yang sangat rapat. Ipang setelah makan malam langsung roboh tertidur tanpa ada beban. Saya sendiri juga tidak butuh waktu lama untuk terlelap setelah kembali memasukkan smartphone ke dalam tas. Benar-benar melepas pegal di badan yang menjangkiti otot paha dan punggung. Sama sekali tidak bergeming hingga pukul 05.30 pagi.

Terdengar sekilas dari tenda sebelah tampaknya Yan dan Adi sedang berbincang-bincang. Saya pun bergegas membuka tenda untuk menghidupkan kompor dan menyeduh teh panas. Ngobrol-ngobrol pagi membahas apakah di pagi hari itu akan langsung turun atau tetap melanjutkan ke puncak. Jujur saja semangat ke puncak sudah hilang dan ingin bersantai-santai di tenda. Tetapi kami pending keputusannya dan memilih menunggu pendapat dari Ipang yang masih belum bangun.

Sembari menunggu Ipang yang baru saja bangun dan ke toilet kami pun mulai membuat sarapan. Sosis goreng dan nasi goreng seperti santap semalam menjadi bahan bakar kami untuk memulai aktivitas. Sembari menyantap sarapan Ipang memberikan usulan untuk tetap mendaki ke puncak karena ini adalah pendakian perdananya, sedangkan saya sebetulnya lebih memilih menunggu di tenda. Namun karena pertimbangan tenaga, waktu, dan jarak tempuh bolak-balik tampaknya sangat tidak efisien. Saya sendiri juga tidak berani ambil resiko apabila terlalu lama.

Akhirnya kami lebih mengikuti saran dari Yan dan Adi yang di mana setelah packing langsung menuju puncak dan turun melalui jalur Putri agar lebih hemat waktu dibandingkan kembali lewat Cibodas.

Sekali mendaki 2 jalur dilewati menjadi semangat kami untuk menuntaskan misi. Setelah merapihkan tenda dan seisinya serta mengisi air dengan minuman hangat, kami pun bergegas memulai perjalanan agar tidak terlalu siang karena waktu sudah menunjukkan pukul 09.30 pagi. Menelusuri jalanan dari Kandang Badak kami berbalik arah untuk menuju puncak Gunung Gede. Di jalur menuju puncak jalanannya menanjak dan lebih curam dibandingkan dengan kondisi pada awal pendakian.

Estimasi waktu yang dibutuhkan adalah sekitar 2 jam tanpa membawa banyak barang. Namun karena kami sudah full pack untuk sekalian pulang ke basecamp maka tentunya akan lebih lama. Tanjakan yang menyiksa perut buncit membuat saya sadar betapa pentingnya menurunkan berat badan. Saya berjanji ke diri sendiri akan mulai diet begitu sudah sampai di rumah. Benar-benar kaki dan jantung sepertinya tidak sinkron, tenaga terkuras untuk menahan bobot tubuh daripada barang bawaan yang sebetulnya ringan.

Vegetasi menuju puncak dari Kandang Badak masih sangat rapat dengan khas hutan belukar. Sesampainya di pintu depan tanjakan setan derita kami masih belum selesai, di mana jalur pendakiannya masih konsisten dengan jalur bebatuan tanah. Lebar aksesnya pun sempit sehingga kami harus berjalan secara beriringan. Kami berjalan dengan santai dan tidak terburu-buru yang penting aman bagi stamina. Sesampainya di tanjakan setan diberikan pilihan akan berjalan memutar atau lewat acara tali temali. Kami pun memilih berjalan memutar agar tidak boros tenaga.

60 menit lebih kami berjalan dengan kecepatan konstan akhirnya butuh istirahat dan bersantai sejenak. Apabila sebelumnya pegal karena berjalan jauh, maka kali ini saya harus berhadapan dengan jalanan yang menanjak meskipun tidak terlalu jauh sebetulnya. Benar-benar 20 menit berjalan 5 menit beristirahat. Air pun menjadi lebih cepat berkurang drastis. Botol minuman saya tersisa satu botol air mineral besar sedangkan minuman hangat yang saya siapkan sebelum berangkat sudah habis tidak bersisa.

Yan dan Ipang berjalan di depan memimpin rute sedangkan saya dan Adi mengikuti dari belakang dengan pelan. Akhirnya setelah memutari tanjakan setan selama kurang lebih 30 menit kami hampir mencapai puncak. Menurut Adi apabila vegetasinya sudah mulai tidak terlalu rapat dan banyak pohon Cantigi serta bebatuan pasir artinya sudah mendekati arah puncak. Total waktu perjalanan yang kami tempuh dari Kandang Badak kira-kira sudah 1.5 jam lebih. Dari pintu keluar menuju jalur puncak ternyata medannya masih belum menjadi lebih bersahabat. Tetap menanjak tanpa ada jeda. Kembali saya meminta break kurang lebih 20 menit karena kaki yang mulai kram.

Setelah kaki dapat diajak berkompromi kami kembali berjalan. Apabila selama dari Kandang Badak menuju jalur puncak udaranya dingin dan teduh, di jalur menuju puncak berubah menjadi sangat panas dan berdebu. Selain itu vegetasinya yang tidak lagi rapat membuat sinar matahari bersinar terang di atas kepala. Dari tempat beristirahat terakhir butuh waktu sekitar 1 jam lebih berjalan santai melewati jalanan setapak. Lahannya pun berubah drastis menjadi sangat berpasir dan penuh batuan kecil serta tanpa tumbuhan. Untungnya mengenakan sepatu sehingga jari dan kuku terlindungi.

Sesampainya di puncak saya memohon ijin kepada teman-teman untuk tidur sebentar karena kepala terasa berat. Karena cuaca yang panas serta terik, juga disebabkan oleh rasa lelah. Khawatir dengan ancaman heat stroke dan berbahaya apabila dipaksakan. Yan pun mencarikan tempat yang cukup teduh agar kami dapat beristirahat. Di bawah warung saya menggelar matras dan tidur cukup lama. Setelah berpuas diri istirahat dan memakan camilan, tersadar waktu telah menujukkan pukul 14.15 WIB. Kami pun berfoto di tugu puncak dan pamit turun menuju Surya Kencana.

Hanya butuh 30 menit turun dari tugu hingga sampai di pelataran Surya Kencana. Namun lutut terasa sangat nyeri karena aktivitas pendakian yang berbalik 180º , dari yang awalnya terus menanjak ke arah puncak sekarang harus terus turun ke arah pulang. Di Surya Kencana kami menyempatkan diri untuk berfoto ria selama beberapa menit, menikmati bentang alam yang indah. Rumput-rumputnya masih segar hijau menggoda untuk merebahkan diri. Jika tidak terbatas oleh waktu dan pasokan makanan mungkin akan tertarik untuk extend 1 malam di tempat ini.

Berjalan menyusuri Surya Kencana menuju arah gerbang turun ternyata cukup jauh. Cahaya matahari sore mulai tampak kuning cerah dan menerangi dari arah barat. Melewati jalanan yang sangat berdebu apabila terkena angin. Syahdu karena disekeliling adalah hamparan rumput yang bergoyang terkena angin serta bunga Edelweiss yang sedang mekar-mekarnya. Menjadi obat mata bagi para pekerja kantoran. Sesekali Adi dan Yan merekam perjalanan kami sebagai dokumentasi dalam bentuk video. Sekitar pukul 16.15 WIB lebih akhirnya sampai di depan gerbang turun ke jalur Putri.

Karena sadar pasti akan menempuh perjalanan malam di hutan maka kami juga menyiapkan penerangan. Dengan headlamp yang telah disiapkan kami menerabas jalur setampak yang tampak suram. Ternyata memang benar-benar suram karena baru beberapa menit berjalan saya sendiri sudah beberapa kali terpeleset kerikil. Menuruni jalur Putri saya tidak lagi dapat buru-buru dalam melangkah karena jarak pijakan turunnya sedikit dalam. Apabila sampai terperosok atau asal lompat bisa jadi justru patah tulang.

Langit semakin temaram dan cahaya makin redup. Di sepanjang jalan kami masih banyak bertemu dengan para pendaki lain, entah itu yang sedang turun ataupun yang sedang menuju ke Surya Kencana. Setidaknya kami tahu bahwa bukan hanya kami sendiri yang akan berjalan menyusuri hutan. Selama di perjalanan jika ada pendaki yang berpapasan dengan saya lalu menanyakan apakah Surya Kencana masih jauh, saya menjawabnya dengan jujur sehingga tidak asal jawab “sudah dekat”

Karena turunan yang curam kami harus mengatur tempo berjalan agar tidak menabrak rombongan yang berjalan di depan. Sampai dengan hampir pukul 18.00 WIB dari pos 4 menuju pos 3 di jalur turun tampak antrean para pendaki. Sangat sebal apabila ada pendaki dari atas yang lari “grudak gruduk”, khawatirnya ada yang tertabrak. Sangat bahaya apabila terjatuh karena selain batuan yang keras juga banyak akar beseliweran dan runcing di permukaan tanah. Saya berusaha tidak memikirkan hal-hal tersebut namun lebih sebagai pengingat untuk mengutamakan keselamatan diri sendiri dan bersama.

Beberapa kali saya terperosok dan terjatuh hingga lecet di tangan, begitu juga Ipang dan Adi. Kami pun menjaga jarak agar aman dan tidak saling dorong. Karena hari sudah gelap, kami pun tidak dapat banyak melihat pemandangan di sekitar. Berbekal pencahayaan yang minim melintasi wahana yang sangat suram. Karena vegetasi hutan yang sangat rapat dan benar-benar di tengah “alas” kami pun harus waspada terhadap hewan liar yang mungkin saja melintas. Hening sekali suasana di malam itu, hanya terdengar suara serangga malam dan sesekali sahut-sahutan dengan para pendaki lain.

Di perjalanan dari Pos 3 menuju Pos 2 ternyata masih ada segelintir pendaki yang baru memulai pendakian, sungguh tidak terbayang bagaimana para pendaki tersebut akan menghadapi perjalanan berat di kegelapan malam. Meskipun kata orang pendakian malam lebih mudah daripada pendakian siang karena tidak terdistraksi oleh beratnya tanjakan. Dari Pos 3 menuju Pos 2 untuk turun membutuhkan waktu setidaknya 1 jam apabila nekat hingga 1.5 jam jika ekstra hati-hati seperti kami berempat. Untuk dapat turun pun saya selalu menghibur diri sendiri dalam hati “ayo sedikit lagi pasti bisa, ayo nanti saja duduknya sampai di Pos 1 baru istirahat

Selama perjalanan turun kami beberapa kali berhenti namun tidak terlalu lama, hanya sekitar 10 menit itupun sambil dempet-dempetan. Di jalur Putri tempat beristirahat yang nyaman agak sulit didapatkan ketika malam. Jika ada akan sangat sepi, gelap, dan nuansanya spooky meskipun kami berempat adalah laki-laki semua. Yang dapat dinikmati hanyalah kunang-kunang yang sesekali nampak berterbangan. Bulu kuduk juga sempat bergetar akibat pikiran blank dan berusaha kembali fokus. Akhirnya kami sampai juga di Pos 1 sekitar pukul 19.45 WIB. Stok air terakhir pun kami habiskan di pos ini.

Karena di perjalanan kurang beristirahat saya pun request ke teman-teman untuk break 15 menit sambil menunggu pukul 20.00. Jantung saya sudah berdegup kencang. Sialnya belum sampai 15 menit beristirahat cuaca tampak tidak bersahabat, rintik-rintik akan segera turun hujan. Kami pun segera melanjutkan perjalanan menuju basecamp. Benar saja ketika sedang melintasi ladang milik warga tiba-tiba hujan mengguyur. Kami berempat pun berlarian mengenakan jas hujan.

Dari pos 1 menuju basecamp harus melewati perkampungan yang tampak sepi, jalurnya sendiri tampak seperti pinggiran ladang sehingga berlumpur dan tergenang air apabila sedang hujan. Kaki saya terasa sangat kaku karena dari yang tadinya harus menahan berat badan ketika turun sekarang harus dipakai berlari dan terkena hujan deras yang serius sangat dingin. Hujan juga tidak nampak semakin reda malah semakin deras. Setelah melintasi perkebunan dari kejauhan tampak ada kerumunan pendaki.

Akhirnya kami sampai juga di basecamp milik Perhutani untuk berteduh. Berduyun-duyun bersama pendaki lain memadati pelataran pos Perhutani. Untuk berteduh saya harus berdesakkan di pinggiran halaman rumah yang masih tertutup oleh atap. Sedangkan di area pendopo sudah tidak muat lagi. Tidak lama kemudian hujan pun reda dan kami diminta membubarkan diri oleh ranger Perhutani agar tidak berkerumun. Segera saya menitipkan sampah di pos ranger, membereskan jas hujan untuk berjalan menuju kampung warga. Kami menyewa angkutan umum untuk kembali ke Warung Mang Id.

Saya dan teman-teman sempat agak kesal dengan pengemudi angkutan umum tersebut yang terkesan agak “malak” tetapi ya sudahlah tidak perlu dibahas, yang penting bagi kami adalah sudah sampai di tempat tujuan dengan selamat. Saya pun bergegas ke toilet untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Lega sekali ketika sampai di mobil, tidak menyangka dapat melewati dua jalur berbeda dengan aman tanpa banyak kendala. Sempat merasa khawatir dicari oleh para ranger Cibodas karena turun lewat jalur yang berbeda. Pukul 21.30 akhirnya kami berangkat pulang menuju Bogor dan dini hari mendarat dengan selamat di rumah Mbak Sherly.

Dengan begitu resmi usai sudah trip kami berempat, semoga pada kesempatan berikutnya dapat hiking bersama kembali dan tidak kapok direpoti oleh saya hehe. Terimakasih untuk kebersamaannya ya guys.

This post is licensed under CC BY 4.0 by the author.

Nostaslgia Bersama DOSBox

Esensi Instagram

Comments powered by Disqus.