Home Pendakian Perdana, Gunung Andong
Post
Cancel
View Gunung Andong

Pendakian Perdana, Gunung Andong

Semenjak membeli kamera di pertengahan tahun memicu munculnya hobi baru seperti travelling dan hiking. Ada manfaatnya ternyata setelah membeli kamera, membuat saya jadi rajin untuk bergerak sehingga kamera tidak mubazir. Berbicara tentang hobi baru di postingan ini ialah tentang hiking atau mendaki gunung. Sebetulnya ketika SMA saya sudah pernah mendaki gunung, tepatnya di Merbabu.

Terakhir saya mendaki gunung kira-kira sudah hampir 10 tahun yang lalu dan masih sebugar anak remaja. Dikarenakan sudah ada rencana untuk mendaki bersama rekan-rekan kantor ke gunung Prau di tanggal 27 September nanti maka saya harus mulai berlatih untuk persiapan fisik. Khususnya untuk persiapan hiking di atas 2000 mdpl. Untuk trial pendakian saya urung mencoba mendaki Merbabu karena juga lebih tinggi dari Prau.

Semenjak berada di lingkungan baru yang masih asing saya hampir tidak pernah berolahraga lari. Sehingga untuk alternatifnya saya mencoba mencari gunung yang tidak terlalu tinggi untuk didaki. Kebetulan adik saya sering mendaki gunung dengan teman-teman kuliahnya dan saya menanyakan gunung apa yang cocok dan ramah untuk pemula serta tidak perlu banyak persiapan fisik. Akhirnya dijelaskan bahwa di dekat rumah ada gunung Andong yang tingginya sekitar 1400an mdpl. Benar-benar cocok dan ramah bagi pemula seperti saya.

Singkat cerita saya ambil cuti beberapa hari yang lalu, di Jakarta saya segera ke Mal Ambasador untuk berbelanja perlengkapan seperti sandal gunung, tenda, tas gunung merk Rei 55 liter, dan alat masak portable. Lalu langsung lanjut pulang kampung dengan perlengkapan yang sudah saya susun sesuai catatan sebelum mengambil cuti. Tidak lupa saya meminta tolong adik saya dan seorang teman kuliahnya Mas Tonny yang berpengalaman sehingga dapat memandu pendakian saya. Tas serta perlengkapan rencana sudah saya rencanakan untuk dipikul sendiri selama pendakianuntuk mengukur fisik.

LandscapeAndong

Landcape Puncak Andong

Sesampainya di Salatiga pagi hari saya langsung berbelanja keperluan dan segera beristirahat karena malam harinya akan berangkat ke basecamp. Ibu saya sampai panik karena saya pulang dari seberang jauh hanya untuk naik gunung tanpa banyak persiapan. Namun setelah meminta ijin dan menjelaskan maksud pendakian beliau memperbolehkan saya dengan syarat tidak memaksakan diri apabila capek. Tempat pukul 20.00 saya berangkat berboncengan dengan adik saya sedangkan Mas Tonny berangkat dengan motornya sendiri. Perjalanan dari rumah menuju basecamp Giri Jaya kami tempuh dalam kegelapan malam.

Dinginnya angin dan pekat gelapnya langit menyelimuti perjalanan kami. Perjalanan tersebut kami tempuh kira-kira dalam waktu 45 menit. Suasana perjalanan cukup sepi sehingga dapat dikatakan lancar. Sesampainya di basecamp, kami ijin ke ranger setempat dan mengisi buku tamu serta membayar retribusi sebesar Rp. 10.000,- per orang. Dari basecamp kami mulai berjalan di bawah sinar bulan yang cuacanya cukup cerah tanpa awan. Dari gapura basecamp kami berjalan selama kurang lebih 15 menit sampai di kaki gunung.

Mulai di kaki gunung tampak sangat gelap gulita karena harus mulai menembus hutan untuk masuk ke jalur pendakian. Saya mulai menghidupkan senter dan berjalan mengikuti Mas Tonny sedangkan Rian ada di belakang saya. Berjalan dengan hati-hati dan fokus pada jalur. Saya mengikuti Mas Tonny dan suara tasnya yang bergemericik lonceng kalung sapi. Selama 15 menit saya lalui tanpa merasa capek karena tidak terlalu menanjak. Selepas 15 menit barulah jalanannya mulai terasa berat karena harus mendaki undakan atau tangga dari tanah dan batu serta akar-akar pohon.

Saya mulai merasa gerah dan nafas yang pendek. Mungkin karena di basecamp tidak melakukan penyesuaian dengan kondisi sekitar serta ketinggian.

Proses penyesuaian tubuh terhadap lingkungan dikenal sebagai aklimasi. Cukup penting karena sebelum mendaki tubuh harus terbiasa dengan keadaan sekitar khususnya ketinggian. Paru-paru juga perlu menyesuaikan dengan kadar oksigen yang lebih rendah di ketinggian. Ada baiknya sesampai di basecamp untuk beristirahat sejenak sekitar 1 jam sebelum memulai.

Benar saja akhirnya selama perjalanan saya sering meminta berhenti sebentar untuk beristirahat dan minum sejenak. Untungnya Mas Tonny dan adik saya sabar untuk menemani saya. Jalan sekitar 10 menit lalu berhenti 5 menit, itulah yang terjadi selama setengah perjalanan kami. Selama perjalanan di hutan suasananya monoton dan tidak banyak yang dapat dilihat karena selain pendakian malam adalah rapatnya vegetasi hutan. Waktu sudah menunjukkan pukul 23.15 dan tiba-tiba terdengar suara yang cukup ramai. Ternyata kami melewati sumber mata air dan bertemu dengan beberapa pendaki lain yang sedang mengisi perbekalan air mereka di tempat tersebut. Kami saling bertegur sapa dan tetap melanjutkan perjalanan. Selepas mata air, vegetasi semakin menipis dan tampak pemandangan malam dari ketinggian. Saya dapat melihat Kopeng dan Salatiga dari tempat di mana saya berdiri, sungguh indah karena tampak lampu-lampu kota yang gemerlap namun sunyi.

Akhirnya setelah 20 menit berjalan kami sampai juga di puncak dan segera mendirikan tenda. Pada kesempatan tersebut saya sekaligus belajar untuk mendirikan tenda, ternyata tidak sulit dan cukup mudah. Bahkan saya dapat mendirikan tenda seorang diri. Setelah tenda didirikan saya segera masuk dan berganti pakaian yang basah karena keringat agar tidak terserang hypotermia. Cuaca di puncak yang terbuka dan langsung terkena angin membuat udara sangat dingin sekitar 15 sampai 16 derajat celcius. Tidak lupa setelah saya berganti pakaian saya segera mengeluarkan kamera untuk mengambil foto suasana malam sebentar lalu bergegas kembali ke tenda untuk segera beristirahat.

SuasanaMalam

Keesokan pagi saya terbangun karena suasana yang cukup ramai, saya cek ke tenda sebelah Mas Tonny masih beristirahat sedangkan adik saya sudah bangun dan sedang asik hunting foto dengan iPhonenya. Saya juga ikut semangat ambil kamera dan mengambil landscape pagi. Suasana matahari terbit sangat menyenangkan, semburat warna oranye langit serta hangatnya matahari mulai terasa. Kami berfoto ria hingga pukul 08.00. Tidak lupa agar perjalanan pulang perut sudah terisi kami segera sarapan roti dan membuat teh manis panas. Kami sengaja tidak memasak nasi dan lauk pauknya karena agar lebih ringkas dan tidak ingin berlama-lama di puncak.

WargaSekitar

Beberapa warga di sekitar gunung Andong ketika subuh sudah mulai beraktivitas dan ada yang berjualan di puncak untuk menyediakan jajanan bagi para pengunjung, sehingga cukup praktis apabila ingin membeli makanan dan minuman

LandscapeAndong2

Sekitar pukul 10.00 kami sudah packing dan siap menurunkan tenda, untuk selanjutnya dimasukkan ke dalam tas. Selesai packing dan memasukkan tenda lalu mengecek apakah tidak ada barang yang tertinggal, kami bergegas turun menuju basecamp. Ternyata perjalanan pulang jauh lebih cepat daripada perjalanan berangkat. Hanya saja lutut dan kaki harus lebih seimbang menopang berat badan ketika turun agar tergelincir atau terpeleset. Pemandangan perjalanan pulang sangat berbeda dengan ketika pendakian malam. Sinar matahari tipis-tipis masuk ke hutan dan menerangi sekitar dengan cahaya yang lembut. Melewati dedaunan dan pohon yang tinggi, sekarang tampak pemandangan yang hijau dan rimbun sehingga suasana terasa lebih berwarna. Tanah yang dipijak pun terasa lebih basah sedikit berlumpur karena embun pagi.

PerjalananPulang

Mas Tonny tampaknya sudah sangat tergesa-gesa karena ada janji sehingga di tengah jalan dia ijin pamit terlebih dahulu. Berhubung sudah hampir sampai dan pintu keluar hutan sudah tampak akhirnya kami berpisah. Mas Tonny bergegas menerabas hutan dan pulang terlebih dahulu, meninggalkan kami berdua. Tidak terasa sudah pukul 11.30 dan matahari menyengat tepat di atas kepala, kami berdua juga segera bergegas jalan menuju basecamp untuk segera beristirahat sejenak. Ketika meluruskan kaki di basecamp tampak lutut saya bergetar karena kecapaian saat menahan berat badan. Saya juga menyempatkan untuk membersihkan badan dan membeli es jeruk agar lebih bugar.

Pukul 12.30 kami berdua segera pulang ke rumah karena sudah ditunggu oleh Ibu. Ada yang menarik tentang pendakian di gunung Andong yaitu adalah selama perjalanan tetap ada sinyal seluler yang masuk. Berbeda sekali dengan gunung Merbabu yang benar-benar tidak ada sinyal. Dan ternyata itu karena di puncak gunung Andong dan sekitarnya memang telah dibangun BTS bagi warga sekitar Kopeng dan Ngablak agar tetap dapat berkomunikasi. Sinyalnya tidak tanggung yaitu HSDPA sehingga selama di puncak saya masih dapat membuka WhatsaApp, media sosial, dan membaca berita dengan lancar.

PendakianPerdana

Disadur dari blog lama saya di WordPress.com

This post is licensed under CC BY 4.0 by the author.

Weekend dan Gundam Wing

Pendakian Gunung Prau

Comments powered by Disqus.