Home Solo Touring ke Sawarna
Post
Cancel
Benteng Sawarna

Solo Touring ke Sawarna

Beberapa minggu yang lalu teman-teman kantor lama mengunggah foto di Instagram ketika berlibur di Pantai Sawarna. Dari beberapa gambar ada yang menarik perhatian saya. Momen sunsetnya sangat cantik. Vibrant dan warna di pantai Sawatrna membuat saya ingin mengunjungi pantai tersebut. Kebetulan saya juga belum pernah mengunjungi tempat itu. Tepatnya sekitar 2 minggu yang lalu saya memberanikan diri untuk solo touring.

Kebetulan yang disengaja tanggal 3 September merupakan fase bulan mati sehingga ada kesempatan tipis untuk hunting foto Milkyway. Pada touring kali ini memilih untuk sedikit mewah. Yaitu meskipun mengendarai motor, tetapi menginapnya di penginapan. Jadi sengaja tidak membawa tenda dan perlengkapan outdoor lainnya.

Setelah mempersiapkan sepeda motor dan perlengkapan fotografi saya berangkat tepat pukul 10.00 pagi. Rute perjalanan dari Jakarta menuju Bogor dan langsung tancap gas ke Sukabumi dan Pelabuhan Ratu. Estimasi sampai di Sawarna membutuhkan sekitar 6 jam perjalanan. Tetapi kembali tergantung situasi dan kondisi jalanan. Karena pada realitanya ternyata ketika perjalanan pulang jauh lebih cepat.

Perjalanan dari Jakarta ke Bogor cukup macet, dari Gandaria saya melewati TB Simatupang menuju Cijantung. Dan masih macet lagi ke arah Depok menuju Cibinong. Setelah dari Cibinong akhirnya jalanan lancar jaya. Sekitar jam 12.00 kurang sampai di kota Bogor. Selama perjalanan saya memang tidak makan siang, karena sudah menyiapkan snack ringan lagipula malas untuk makan berat.

Jalanan dari Bogor menuju Ciawi juga kembali terjebak macet. Selain dikarenakan jumlah kendaraan darat yang membludak ketika masa liburan (khususnya di persimpangan Puncak - Sukabumi), adalah juga dikarenakan ada perbaikan di sepanjang Jalan Sukaraja. Sekitar pukul 13.00 siang baru dapat lolos dari kemacetan.

Melaju dengan kecepatan santai dan stabil, 60-80 km/jam. Berbelok masuk ke arah. Saya menyempatkan untuk berhenti di Indomaret sebentar. Istirahat siang dan menyantap snack Fitbar. Setelah melepas penat kembali melanjutkan perjalanan. Dari Cibadak menuju Pamuruyan, kondiosi jalan meliuk-liuk dan penuh tanjakan serta tiba-tiba muncul jalan yang curam turunnya. Sehingga saya memilih untuk tidak terlalu kencang menarik gas.

Saya kembali menjaga kecepatan sekitar 60 km/jam. Selama perjalanan sebaiknya menjaga konsentrasi dan tidak lewat jalur tersebut ketika malam. Tidak adanya penerangan dan cukup berkelok-kelok sehingga berpotensi meningkatkan resiko kecelakaan, apalagi ketika hujan deras. Saran saya adalah lewat ketika pagi atau siang hari. Sebagai penunjuk arah saya mempercayakan navigasi dari smartphone karena kebetulan sinyal seluler cukup kuat.

Setelah sekitar hampir 1 jam lebih berkendara saya melewati banyak obyek wisata yang menarik. Salah satunya adalah Taman Nasional Gunung Salak. Ingin mampir untuk mendaki ke sana. Namun saya tetap kekeuh konsisten mengejar momen di pelataran pantai daripada dataran tinggi.Dari pintu Taman Nasional tidak terlalu lama saya sampai di Cikidang dan kembali beristirahat 10 menit di Indomaret.

Hal ini saya lakukan untuk menjaga konsentrasi serta melancarkan peredaran darah di tangan, belajar dari solo touring sebelumnya, Terlalu mengeksploitasi tenaga sehingga sangat tidak dianjurkan. Setelah konsentrasi pulih, saya kembali melanjutkan perjalanan. Dari Cikidang menuju Pelabuhan Ratu hanya memakan waktu kurang dari 1 jam perjalanan.

Karena perjalanan yang lengang, saya memacu kendaraan di kecepatan 70-80 km/jam. Sesampainya di Pelabuhan Ratu saya kembali mengisi bahan bakar dan menghapus dahaga sebentar. Sedikit info Honda Beat 2011 saya lumayan irit untuk ukuran motor yang berumur 4 tahun. Di Bogor saya sudah isi full-tank dan baru menipis setelah menempuh aspal sejauh 85 km.

Di Pelabuhan Ratu jalanan cukup lengang dan disuguhi pemandangan indah dari pantainya. Tampak seperti sedang di Miami meskipun saya belum pernah ke sana.

Dari kejauhan aroma air laut dan pantai tercium. Selama perjalanan di sebelah kiri jalan menuju Lebak terlihat hamparan air berwarna biru cerah. Sembari ditiup angin sepoi-sepoi yang menyegarkan. Sungguh takjub dengan anugerah sang Ilahi. 3M (menyenangkan, menenangkan, dan menentramkan hati). Hati dan otak pun berdamai menyaksikan keindahan alam halah

Dari beberapa pantai yang saya lupa namanya, terdapat satu pantai yang mencuri perhatian saya. Yaitu pantai Karang Aji. Pantulan cahaya hijau toska hasil perpaduan warna biru langit dan hijau dari hutan sekitar terlihat menggoda dari jalan raya. Gradasi warnanya sangat indah, saya ingin mampir sejujurnya. Sayang waktu sudah menujukan pukul 15.30 lebih. Jadi harus segera sampai di Sawarna sebelum maghrib agar tidak tertinggal momen sunset.

Tepat pukul 15.50 memasuki provinsi Banten. Cuaca perjalanan cukup cerah sehingga tidak khawatir akan hujan. Memasuki area wisata Sawarna saya sempat salah jalur dan harus memutar balik sekitar 8 km. Jalanannya cukup rusak. Bahkan saya terjatuh dari motor karena kurang berhati-hati dan kurang memperhatikan belokan yang cukup tajam. Tidak siap ketika rem mendadak.

Untungnya ketika jatuh kecepatan sangat pelan dan kondisi jalanan sangat sepi. Saya hanya menderita sedikit lecet di kaki. Berkat mengutamakan safety, saya mengenakan jaket tebal dan celana panjang serta sarung tangan. Cek mesin dan elektrikal motor tidak ada kendala, hanya rugi gagang spion yang tergores-gores.

Sekitar pukul 16.30 lebih sampai juga di pos masuk wisata Sawarna. Saya mampir ke Indoamret untuk membeli Hansaplast. Di Indomaret ini saya dikenalkan dengan seorang pemandu Wisata oleh pramuniaga lokal. Nama pemandunya Rizal dan dari logatnya orang Sunda tulen. Umurnya masih sangat muda. Oleh Rizal saya diantar ke penginapan yang direkomendasikannya.

Ketika sampai di penginapan saya ditembak harga Rp. 350.000,-. Bagi saya tidak masuk akal dan dinego menjadi Rp. 200.000,-. Sebagai gantinya saya menambahkan Rp. 100.000,- untuk menyewa motor si Rizal untuk mengantar saya besok pagi ke beberapa hidden gem di Sawarna. Setelah masuk ke kamar saya membersihkan luka sekaligus ganti celana pendek. Dari penginapan saya menuju Pantai Tanjung Layar dengan mengendarai motor. Hanya sekitar 15 menit dari penginapan.

Berikut beberapa hasil hunting di pantai Tanjung Layar :

Setelah makan malam saya kembali ke penginapan untuk mandi dan beristirahat sebentar sembari mengedit foto di smartphone. Saya kembali lagi ke pantai pukul 20.00. Langitnya sungguh cerah dan bertaburan bintang, berikut foto Milkyway yang sukses diabadikan. Powered by Sony ⍺6000 dan Samyang 12mm.

Saya dan Milkyway

Setelah juga puas bermain di pantai saya kembali ke penginapan untuk beristirahat karena pagi buta harus kembali explore pantai lainnya. Saya baru dapat memejamkan mata tepat pukul 00.00. Keesokan pagi Rizal membangunkan saya untuk melihat sunrise di Pantai Karang Beureum, Karang Taraje, dan Pasir Putih. Pantai Karang Beureum adalah pantai pertama yang kami hampiri.

Di pantai Karang Beureum ombaknya cukup besar dan dari kejauhan terdapat pemecah ombak alami berupa batuan karang raksasa. Jarak yang aman untuk mengambil gambar dan bermain sekitar 30-100 meter dari bibir pantai. Jadi sebaiknya jangan terlalu dekat dengan pemecah ombak. Karena ombak yang besar dan pastinya cukup kuat untuk menarik kita ke lepas pantai.

Setelah puas hunting gambar di Karang Beureum saya melanjutkan ke Karang Taraje. Jaraknya tidak jauh, sekitar 10-15 menit perjalanan dengan menggunakan motor. Untungnya air sudah surut, sehingga aman untuk mengambil gambar dan tidak terlalu basah-basahan. Sebaiknya menggunakan sepatu sandal yang terikat kencang karena arusnya lumayan. Khawatirnya sandal hanyut terseret.

Di pantai ini saya mengabadikan gambar ombak yang menghantam karang, bak air terjun dengan air laut. Powered by SEL 55-210mm OSS Telephoto Lens.

Setelah puas bermain air dan merekam momen. Saya diantar kembali oleh Rizal menuju penginapan. Lelah karena 3 jam saya menikmati suasana sunrise. Kembali saya menyempatkan diri beristirahat. Tertidur pulas. Setelah puas terlelap saya segera bangun dan mandi. Segera hengkang dari penginapan untuk menuju ke Jakarta. Perjalanan pulang kurang lebih membutuhkan waktu 5 jam kurang. Lebih cepat 1 jam dikarenakan arah ke Jakarta sangat sepi. Hanya sedikit macet di Depok.

Overall saya puas sekali dengan keindahan pantai Sawarna dan akan kembali lagi ke tempat ini suatu saat. Dan juga masih penasaran dengan pantai Karang Aji. Ah sudah cukup mengetiknya segera tekan tombol publikasi. Besok siang sudah harus pergi ke Jogja untuk kick off meeting bersama user di Telkomsel. Wish me luck.

Disadur dari blog lama saya di WordPress.com

This post is licensed under CC BY 4.0 by the author.

Install BMC AR Developer Studio 9.1 di Mac

Solo Touring ke Bandung

Comments powered by Disqus.