Home Terimakasih WordPress, Halo Jekyll
Post
Cancel
Blogging

Terimakasih WordPress, Halo Jekyll

Ternyata kehidupan weblog saya pasang surut dan seringkali lebih fokus pada mengurus platform blog daripada kontennya. Apabila melihat draft tulisan di folder selalu ada ide yang telah disiapkan dengan terencana. Di setiap bulan selalu “menyetor” draft di daftar tulisan. Apabila ada pikiran yang tiba-tiba muncul saat tidak di depan laptop banyak juga yang dibuat di aplikasi Notes lalu ditransfer ke editor apabila sempat. Tetapi belum selesai coret-coret, akhirnya justru tidak sampai menekan tombol publikasi. Terdistraksi oleh aktivitas mengulik tampilan, mesin platform, pindah ke Medium, dan coba-coba self-hosting demi mencari pengalaman baru. Tulisan di folder draft pun terbengkalai.

Photo by RetroSupply on Unsplash

Friendster

Masih ingat dengan jelas 16 tahun yang lalu, di tahun 2006 memulai blogging di Friendster. Ada yang pernah berkecimpung di laman Friendster? Mungkin kita berasal dari era yang sama. Ngeblog hanya untuk coret-coret tentang keseharian dan sekitar, hal-hal yang menarik bagi saya seperti sejarah perang dunia, mengulas tentang game yang baru saja disewa dan dimainkan, dan bercerita tentang anime serta manga yang saya ikuti. Sesekali saya membuat cerita jurnalistik untuk ditempel pada majalah dinding. 2 tahun bersama mulai bosan dengan Friendster dan segala keterbatasannya baik tampilan serta editornya (kalau tidak salah menggunakan TypePad untuk CMSnya).

Tidak sengaja suatu hari membaca sebuah artikel di CNET yang mengulas platform yang cocok untuk lebih fokus dalam menulis dengan editor yang ketika itu menurut saya wah. Platformnya dikenal dengan nama Blogger yang saat itu baru diakuisisi oleh Google.

Sembari libur menunggu pengumuman UMPTN saya pun mencoba mendaftar akun Blogger, by the way di tahun tersebut masih dapat mendaftar tanpa account Google karena saya iseng lihat email masih menggunakan Yahoo Mail. Ternyata memang benar fitur di Blogger lebih cocok untuk menulis dengan gaya WYSIWYG editornya ala TinyMCE yang pada jaman itu terlihat cool dan powerful. Yang saya paling suka adalah dapat menambahkan widget serta javascript. Edit template pun sangat mungkin dilakukan dengan menambahkan custom css pada bagian header. Tetapi belum banyak eksplorasi, awal tahun 2009 menerima email bahwa Friendster melakukan migrasi blognya dengan platform WordPress. Saya pun menjadi penasaran apa itu WordPress.

WordPress.com Ep. 1

Mengetahui ternyata WordPress juga disediakan oleh gratis oleh perusahaan pendirinya yaitu Automattic maka saya pun bergegas mendaftar ke WordPress.com. Memutuskan bahwa Friendster hanya berfungsi sekedar sosial media satu-satunya dan aktivitas blogging di WordPress.com. WordPress sendiri adalah sebuah proyek CMS open source yang dapat digunakan secara gratis dan komersil, untuk CMS serta dokumentasi proyeknya dapat dilihat di WordPress.org. Sedangkan WordPress.com adalah perusahaan yang didirikan oleh Matt Mullenweg yang juga founder WordPress. WordPress.com ditujukan bagi end-user yang membutuhkan layanan weblog secara end-to-end dan tidak mau ribet seperti Blogger.

Photo by Stephen Phillips - Hostreviews.co.uk on Unsplash

Sebuah keputusan yang tepat karena pada tahun 2012 kalau tidak salah profile Friendster saya tidak dapat diakses lagi karena sudah tutup layanan. Kesal minta ampun karena album foto dari SMP serta blog lama belum sempat dibackup. Kembali tentang WordPress, saya benar-benar suka dengan platformnya. Tema dengan widget yang dapat diubah dengan banyak pilihan, editor yang lebih lengkap serta rapi, aman karena dari awal WordPress.com merestrict penggunaan client side script, dan terasa lebih cepat diakses apabila dibandingkan dengan 2 platform yang saya sempat gunakan sebelumnya.

Since then I’m no longer interest to use any social media platform such as Facebook, Twitter, or any other platforms except Foursquare, karena kebetulan saya mahasiswa jurusan Geografi sehingga merasa wajib hukumnya mengetahui sosial media berbasis geolokasi. Baru di akhir tahun 2015 mendaftar Instagram dan LinkedIn, karena sempat dicurigai terafiliasi dengan tindak terorisme akibat ditrack tidak memiliki media sosial. Terpaksa membuat akun pada 2 platform media sosial tersebut.

Sebetulnya secara pribadi lebih tertarik untuk self-hosting dengan CMS WordPress dibandingkan nebeng di WordPress.com karena trauma dengan Friendster. Di mana apabila saya rawat sendiri setidaknya lebih yakin dan lebih bertanggung jawab. Namun dikarenakan keterbatasan dompet sebagai anak kuliah di masa itu maka harus menahan diri. Keunggulan dari WordPress adalah dikembangkan dengan sangat niat. Fitur-fitur out of the boxnya semakin banyak semisal syntax hightlightning yang sangat berguna ketika saya yang saat itu masih kuliah dapat mencatat snippet code dengan rapi. Navigasi dinamis yang dapat disusun berdasarkan kategori dan page (halaman) mempermudah ketika harus membagi antara artikel tulisan bebas dengan artikel yang ditujukan untuk materi asistensi.

Selain itu saya sempat berbagi weblog WordPress dengan beberapa rekan asistensi sehingga memungkinkan kami untuk berkolaborasi dalam membuat artikel dan materi. Dashboardnya dilengkapi statistik analisis pengunjung serta panel komentar untuk dimoderasi. Analisa yang dihasilkan bukan sekedar jumlah overall visitor namun hingga dapat dilihat per tulisan, halaman, dan per timeline. Saya dapat mengetahui interaksi dan reaksi yang dihasilkan oleh tulisan dengan detail. Fitur galeri yang pada saat itu belum dimiliki secara out of the box oleh kompetitornya memungkinkan penggunanya untuk menaruh beberapa gambar dalam satu slide pada tulisan tanpa membutuhkan kustom. Agar tulisan pun tidak terlalu ramai oleh tumpukkan gambar. Fitur geotagging post juga menjadi salah satu inovasi sehingga membuat aktivitas berbagi tulisan tidak terasa mainstream. It comes with many things that I can not deny.

WordPress.com sangat ramah bagi penggunanya, Ibu saya yang tergolong gaptek hingga saat ini masih setia dengan weblognya dan merasa tidak ada kendala. Malah semakin produktif dalam menulis dan sempat membuat buku berdasarkan blognya.

Ada beberapa themes yang menjadi andalan. Di awal blogging adalah Kubrick yang merupakan theme ikonik dari WordPress yang jujurly menurut saya paling simple, paling ringan, dan paling nyaman bagi pembaca. Bertahan dengan Kubrick hingga akhir akhir 2009 ganti theme ke Freshy yang cukup elegan dengan nuansa black piano serta 3 columnsnya namun hanya sebentar, dan terakhir paling awet adalah Mystique yang tampak funk. Mystique adalah theme yang di saat itu menurut saya sangat keren dan menjadi favorit hingga akhir hayat sebelum hijrah ke self-hosting.

Tampilan dark penuh warna, fitur icon sosial media pada header, dan sidebar tabnya membuatnya tampak paling futuristik di antara themes lainnya.

Self-host WordPress

Kurang lebih 6 tahun bersama WordPress.com akhirnya pada tahun 2015 punya kesempatan merasakan versi self-hostingnya. Apabila sebelumnya masih harus menahan diri karena belum financial freedom maka ketika telah bekerja dan memiliki “penghasilan tetap” merasa memiliki pembenaran. Segera backup dan hapus blog di WordPress.com untuk membulatkan tekad. Berbekal internet banking saya memberanikan diri menyewa jasa Dapurhosting. Sewa dibayarkan per tahun sebesar Rp 185.000,-. Self-hosting artinya juga self-service, setting dari nol ternyata tidak sulit. Cukup membuat database dengan MySQL lalu setting konfigurasi koneksinya pada form serta hal administratif lainnya dan voila websitenya release. Di bawah 15 menit. Namun ternyata ada beberapa fitur yang menghilang ketika menggunakan versi self-hosting yaitu statistik analisis (yang dapat diganti dengan Google Analytics) dan geotagging post.

Ternyata setelah saya hitung kembali biaya Rp. 185.000,- untuk setahun menjadi murah ya jika dihitung per bulan. Bahkan sudah termasuk storage sebesar 500MB, email, dan domain.

Semenjak berjalan dengan self-hosting banyak hal terkait riset yang saya lalui. Seperti bongkar-bongkar struktur CMS WordPress, bedah API, dan mempelajari fungsi pada barisan kodenya. It was an amazing experience dengan forking tema milik WooThemes (Irresistible) agar kompatibel dengan versi 3.7.x sampai 4.x, add custom layout, dan develop plugin sendiri. Beberapa plugin yang pernah dibuat adalah seperti fitur geotagging post seperti yang eksklusif hanya ada di WordPress.com, custom image slider yang support Google Photos agar tidak boros storage serta bandwidth, dan embedded Spotify playlist pada post. Ilmu yang paling utama adalah memahami ekosistem WordPress dan apa saja komponen teknologi pendukung di belakangnya. Thanks kepada para happiness engineer dari Automattic yang pernah mengundang saya untuk kolaborasi improve proyek open source WordPress yaitu Calypso untuk tuning embed post by URL di prototype TinyMCE terbaru yang ternyata kodenya juga sampai ikut hijrah ke Gutenberg.

Ketika terlibat di proyek open source tersebut saya terbayang betapa kuatnya ekosistem WordPress di masa depan (red. hingga saat ini) dan tidak mungkin kalah dari Medium dalam waktu dekat. Statement saya diperkuat dengan antusiasme jumlah pengguna pada pertengahan tahun 2016 ketika proyek Calypso release secara parallel bersama Jetpack. Kedua proyek besar ini memungkinkan kita dapat menggunakan layanan WordPress baik self-hosting ataupun yang ada di WordPress.com di dalam satu tempat dengan pengalaman yang sama. Berita bagusnya adalah dapat saling terhubung. Sehingga dapat menggunakan akun WordPress.com untuk mengatur situs yang ada di self-hosting. Situs di self-hosting juga mendapatkan fitur analisis (gratis) dan fitur order layanan backup serta monitoring rutin melalui Automattic (berbayar).

Saya sempat mendaftar dan menulis di Medium untuk berkontribusi di sebuah komunitas. Namun pada akhirnya saya pindahkan ke WordPress. Dikarenakan justru beberapa teman komunitas yang ingin membaca tidak dapat mengaksesnya karena limit quota. Sangat tidak setuju ketika tulisan non-komersil yang dipublikasikan justru dibatasi aksesnya, toh tulisan saya juga bukan konten premium.

Read as you wish dan semoga saja bermanfaat karena sharing is caring, dosen saya pernah memberikan kutipan dari sebuah hadits “ikatlah ilmu dengan menulisnya” Masa ketika orang lain mencarinya agar dapat membaca serta mengingat justru dibatasi~

By the way di Medium setahu saya hingga saat ini masih ada issue ketika embed post dari sosial media seperti Instagram.

Selama kurun waktu 3 tahun bersama self-hosting justru tidak rutin menulis dan terlalu sibuk mengoprek ganti-ganti tema yang tidak dapat dilakukan di WordPress.com. Sempat tidak sengaja menghapus data di database publik blog sendiri padahal seharusnya yang dihapus adalah data di database staging, akibat tidak fokus ketika test fungsi ORM pada plugin yang sedang dikembangkan. Alhasil sebagian besar tulisan sebelum tahun 2015 hilang tidak terecover karena tidak rutin backup dan sebagian saya tulis ulang lagi yang sekiranya penting. Produktivitas ngeblog dalam setahun jadi drop, hanya 4 sampai 6 tulisan baru yang terpublikasi. Beberapa side job dengan WordPress sukses dituntaskan dalam waktu yang relatif singkat.

Photo by Fikret tozak on Unsplash

Bekal pengetahuan develop plugin serta integrasinya saat bermanfaat ketika membangun fitur yang dibutuhkan oleh klien (hampir) tanpa perlu menyentuh kode pada website yang sedang berjalan. Paling hanya backup database serta menambahkan beberapa tabel atau kolom baru. Menjelang penghujung tahun 2017 Dapurhosting membuat saya sebal dengan kualitas layanan mereka. Bandwidth diturunkan tanpa alasan yang jelas sehingga sering timeout. Sempat tidak dapat diakses hingga hampir seminggu sampai ada satu permintaan prototipe klien terakhir yang tidak jadi dishow-off. Di mana akhirnya saya transfer prototipenya ke 000webhost. Karena tidak ditanggapi oleh tim support saya pun melakukan transfer situs beserta data dari self-hosting ke WordPress.com dengan bantuan Jetpack.

WordPress.com Ep. 2

“Pulang kampung” agar saya tidak ribet lagi mengurusi migrasi, infrastruktur, dan maintenancenya. Bak cinta lama bersemi kembali, hanya domain saja yang masih menggunakan dari Dapurhosting. Nikmatnya didukung dengan layanan berbayar karena kebetulan saya sangat sibuk dengan beberapa proyek di kantor dan keluarga tertimpa musibah sehingga benar-benar hampir tidak ada waktu untuk handle serta monitoring secara berkala. Dengan tidak dapat lagi kustom, upload sembarang tema yang bertebaran di internet, dan bermain plugin maka menjadi lebih fokus menulis meskipun tetap saja jarang.

Dibandingkan dengan self-host, WordPress.com jauh lebih mahal tetapi tanpa pernah mengalami kendala bandwidth dan justru lebih cepat aksesnya. Saya juga tidak pernah lagi menjalankan manual update dan backup. Kisaran per tahun sebesar Rp. 285.000,- untuk personal plan, sebagai info ini lebih murah karena pembayarannya per 2 tahun bukan per tahun.

Saya jadi rutin membaca melalui fitur reader (RSS feed) di mana dapat berlangganan artikel dari situs-situs yang menarik bagi saya. Fitur tersebut dapat diakses di semua platform WordPress. Terhitung sejak bulan Oktober 2017 hingga pertengahan bulan Maret kemarin menetap cukup lama di WordPress.com. Kok hanya sampai Maret kemarin, kenapa tidak sampai dengan sekarang? Ada beberapa hal yang membuat saya khilaf kembali harus meninggalkannya. Semakin lama saya merasa tema yang disediakan kurang berkualitas dan tampaknya out-dated. Beberapa issue yang sempat saya raise as ticket ke tim supportnya adalah :

  1. Featured image menggunakan gambar format PNG yang memiiki background transparan tidak ditampilkan dengan baik. Cek melalui inspeksi elemen sebetulnya hanya butuh perbaikkan minor di CSS agar dapat ditampilkan dengan optimal secara general.
  2. Penerapan rasio featured image juga tidak pas secara resolusi, seharusnya dapat disesuaikan di persentase ukuran layar agar lebih rapi.
  3. Issue lainnya adalah seperti Gist yang diembed dari GitHub pada beberapa tema pilihan saya tidak ditampilkan secara berantakan. Padahal secara rasa, tema tersebut sudah pas menurut selera saya. Akhirnya justru dipaksa ke tema lain yang lebih baru namun tidak sesuai selera (begitu juga di nomor 2).
  4. Kode pada syntax highlightning seringkali terkena format dengan HTML encode termasuk Gist yang diembed pada GitHub. Sehingga terkadang misal yang harusnya muncul sebagai “<” justru terformat menjadi &lt;. That was very irritating, eh frustrating! Begitu juga ketika backup, hasilnya pada XML banyak yang terencoding 😩

Overall WordPress.com cukup bagus, hanya saja apes bertemu orang yang rewel seperti saya. Saya pun sudah menyampaikan concern kepada tim teknis tetapi belum mendapatkan tanggapan. Tidak semua post terdampak oleh case nomor 3 dan 4. Seperti fotografi, sajak, dan hal yang non kode masih aman. So I do not have any other issues selain artikel yang tentang pemrograman. Sampai tidak sengaja saya membaca blog milik Boris Serebrov ketika mencari tutorial terkait tunneling di AWS. Somehow saya merasa weblognya sangat minimalis karena pada beranda hanya berisi daftar judul recent post dengan sidebar yang responsive menjadi hamburger menu. Format kontennya pun mirip dengan dokumentasi di GitHub ala markdown.

GitHub Pages

Weblog milik Boris dengan segala kesederhaannya justru terlihat elegan menurut saya. Saya cek dengan Lighthouse performancenya pun 100/100 alias perfectwhat the di mode desktop maupun mobile. Saya pun menelisik weblognya dengan sedemikian rupa, menjelma menjadi seorang stalker yang ingin mencontek ramuannya. Singkat cerita hasil dari stalking, saya baru mengetahui bahwa GitHub menyediakan hosting web statis dengan domain github.io atau yang dikenal dengan GitHub Pages. Tentu saja karena statis maka tidak heran dapat diakses dengan sangat ringan dan cepat. Format kontennya benar-benar menggunakan markdown, seperti ketika saya membuat sebuah readme dan dokumentasi di repository GitHub. Benar-benar blogging pun dilakukan dengan prosesi ritual yang rada “geek” bagi sebagian orang tetapi masih “manusiawi” menurut saya.

Duh kemana saja saya selama ini menggunakan GitHub baru sadar ada tools canggih seperti ini, padahal setiap membaca dokumentasi kadang sering mampir ke website yang dibangun dengan GitHub Pages.

Saya pun penasaran mencoba, namun tidak terburu-buru langsung memindahkan semua konten ke GitHub Pages lalu menghapus blog lama. Tentunya mempelajari terlebih dahulu spesifikasi produknya, agar tidak membeli kucing dalam karung. Ternyata cukup mudah. Dengan mengikuti 5 langkah yang ada di github.io. Misal saya memiliki username GitHub dengan nama mygithubusername ketika membuat sebuah repository dengan nama mygithubusername.github.io maka otomatis seketika dibuatkan secara otomatis sebuah website dengan akses URL seperti nama repositorynya. Default platform yang tersedia adalah Jekyll tanpa perlu koding kecuali mencoba mengopreknya dan running di lokal.

Sebetulnya tidak hanya Jekyll dan ada juga Hugo. Kelebihan Hugo sendiri jauh lebih kencang proses build static webnya sehingga publikasinya pun lebih cepat. Hanya saja alasan kenapa tetap dengan Jekyll ada di paragraf selanjutnya.

Untuk menentukan tema atau templatenya saya memiliki pilihan dapat menggunakan starter dari GitHub Pages atau dapat menggunakan tema yang banyak berseliweran di internet. Saya sendiri jatuh cinta pada pandangan pertama dengan template berikut, sebetulnya ada starternya namun lebih memilih fork karena dapat mengoprek base code sesuai dengan keinginan. Setelah memilih tema dan generate template, bagaimana cara mengisi kontennya? Nah part ini favorit saya yaitu checkout repository ke lokal lalu membuat sebuah file markdown pada direktori _posts dengan format yyyy-mm-dd-title.md e.g 2022-04-14-title-with-space.md. Karakter spasi di title e.g “Title with Space” dapat diganti dengan “-“ tanpa kutip.

Photo by Markus Winkler on Unsplash

Setelah mengisi konten dengan format penulisan markdown, maka dapat menyimpan lalu commit dan push ke repository. Selepas itu GitHub akan melakukan proses generate dari markdown menjadi halaman post di website saya. Mungkin detail how to membuat website dengan GitHub Pages akan saya tulis di tulisan selanjutnya. Kisi-kisi saja bagi yang terbiasa dengan dashboard di WordPress atau Ghost “please do not panic because there is no dashboard, no post management, no page management, no tag management, no theme gallery to pick, just focus on content” and let me tell you the truth. Jeyll is a totally different animal bila disandingkan dengan CMS pada umumnya.

Beberapa poin yang membuat saya tidak butuh waktu lama untuk jatuh cinta kepada Jekyll 😍

  1. Sebagai “IT Guy” yang berkutat di rekayasa perangkat lunak beserta dokumentasinya maka mengetik konten dengan format markdown di editor VSCode terasa jauh lebih nyaman, cepat, dan “dekat” tanpa perlu login weblog di browser atau aplikasi blogging hanya demi mengisi tulisan.

  2. Seperti pada poin 1, tidak perlu ada login maka berarti tidak perlu ada autentikasi. Apakah aman? Tergantung ada akses ke repository atau tidak.

  3. Web template dan Jekyll dapat dikustom sesuai dengan kebutuhan menggunakan beberapa kemampuan seperti : HTML, CSS, javascript, ruby, dan sisanya biasanya dapat diselesaikan secara baik-baik lewat plugin Jekyll yang banyak tersedia di internet.

    • Beberapa yang saya rombak terkait layout, styling, dan sedikit tweak javascript untuk mode tampilan dark dan light.
    • Plugin tambahan yang saya gunakan adalah embed Gist yang dapat tersedia di sini. Gist pun tanpa ada kendala ketika ditampilkan, saya sangat bahagia melihatnya.
  4. Pada template yang saya gunakan typographynya tampak genjreng mantap. Apa saja yang saya suka dari hal tersebut?

    • Quote dengan beberapa jenis prompt e.g warning, info, tip, dan danger membuatnya tampak interaktif.

    • Syntax highlightning dan pre-formatted text dengan layout seperti editor. Tidak ada kejadian terencode ke format penulisan HTML, saya sangat bangga melihatnya.
    • Image yang lazy loading (ini membuat performa ketika website diakses pertama kali menjadi sangat cepat dan optimal, even menggunakan jaringan 3G).
    • Imagenya dapat disusun ke dalam beberapa alignment. Clickable untuk zoom-in juga menjadi fitur yang nice to have apabila resolusi yang diembed ditampilkan lebih kecil dari ukuran aslinya.
    • Support Mermaid untuk menggambar diagram, sehingga saya dapat menggunakan pre-formatted text untuk membuat diagram dengan deskriptif. Selain itu saya juga memanfaatkan PlantUML apabila di Mermaid tidak tersedia diagram yang saya butuhkan.
  5. Say “sayonara~” kepada database, Jekyll tidak membutuhkan database. Semua serba file, itu adalah salah satu alasan kenapa Jekyll dapat diakses lebih cepat serta terasa ringan.

  6. Pinned post juga nice to have, saya belum menggunakannya karena lebih membutuhkan featured post dengan slider.

  7. Dengan GitHub sebagai hosting dan menggunakan versioning pada repository (in case butuh rollback) saya tidak perlu melakukan maintenance, update, dan backup rutin toh tanpa database seperti di point 5.

  8. Out of the box support RSS Feed generator dengan format Atom.

So far terkait kultur, open framework, fitur yang powerful, penulisan konten, hasil render tampilan, dan performa maka sisi positif yang didapatkan dari Jekyll jauh lebih banyak dituai dibandingkan WordPress dengan WordPress.com. Meskipun secara manajemen tentunya kalah telak karena tidak dilengkapi dengan CMS. Meskipun banyak menuai poin positif tetap tidak luput dari beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk pengembangan serta kustom ke depannya :

  1. Kumpulan image tidak dapat dikumpulkan menjadi slide menjadi galeri. Sudah masuk ke bucket untuk mulai modifikasi.
  2. Belum ada featured posts, sementara hanya ada pinned post. Sudah masuk ke bucket juga, hanya saja belum urgent karena membutuhkan slide seperti pada point 1.
  3. Belum ada chart, mungkin akan saya tambahkan ke bucket juga setelah menemukan chart generator dengan markdown. Lagipula masih belum urgent.
  4. Analisa traffic masih perlu digali lebih terkait Google Analytics atau membutuhkan third party lain seperti Alexa.

Catatan lainnya adalah performa build pada build time yang masih menjadi misteri. Dengan static generator untuk jumlah post saat ini yang masih sedikit yaitu di bawah 1000 maka belum terasa berat dan hanya butuh 1 - 2 menit semenjak commit terakhir untuk dideliver ke publik. Entah bagaimana jika sudah mencapai di atas 1000, apakah menjadi sangat lambat dan bahkan out of memory? Let me try~

Berikut terlampir hasil uji performa di Lighthouse untuk weblog saya yang baru dengan Jekyll, baik mobile dan desktop hasilnya kurang lebih sama. Rata kanan full hijau dan dapat tersenyum lebar.

Karena puas dengan performa dan terus disanjung pada paragraf di atas. Saya menganggap kriteria MVP sebagai weblog telah terpenuhi. Kekurangannya sudah dikantongi dan mencari waktu untuk implementasi. Keputusan eksekusi migrasi jatuh per tanggal 15 Maret, dengan kondisi per hari ini sudah hampir selesai memindahkan semua post (tersisa 3 tulisan). Hampir sebulan tanpa ada kendala, cukup mulus. Yang sangat memakan waktu adalah penyuntingan tulisan lama dari backup WordPress di sela-sela kesibukan. Dengan demikian resmi sudah perpisahan saya dengan WordPress. Akunnya sudah resmi saya tutup serta layanan readernya selesai migrasi ke Feedly.

Dapat berhemat sekitar Rp. 60.000,- per tahunnya karena sekarang hanya mengeluarkan biaya untuk domain dan subdomain saja.

Sedih menyesak di dada harus berpisah setelah saling setia jatuh bangun belajar bersama WordPress (WordPress.com dan self-hosting) selama 14 tahun lamanya. Terimakasih telah mengajarkan banyak hal dan sekarang waktunya memulai babak baru dengan Jekyll yang sudah nempel chemistrynya. Sekaligus memperdalam ilmu baru dengan generator statis karena belajar tidak ada yang percuma. Semoga dapat konsisten menulis dan semakin excited untuk ngeblog dengan warna baru. Terkait detail cara memulai Jekyll, tips, dan toolsnya juga sedang disusun dan semoga dapat segera diunggah. Salam!

This post is licensed under CC BY 4.0 by the author.

IBM Maximo – Automation Script Export Object to XML

-

Comments powered by Disqus.