Home Wayang Kulit
Post
Cancel
Culture

Wayang Kulit

Sudah hampir setengah tahun ini di setiap malam saya selalu menyempatkan untuk membuka Youtube di SmartTV demi menyimak acara wayang kulit. Dulu ketika SD saya sering sekali bangun subuh dibangunkan oleh almarhum bapak untuk nonton wayang di Indosiar. Karena adalah kenangan yang melekat bersama beliau, menonton wayang memiliki nilai sentimental bagi saya. Saya bahkan dulu rela menghidupkan alarm weker pukul 03.00 pagi untuk menonton dan membuat satu rumah jadi terbangun. Tokoh wayang Adipati Karna adalah idola saya dikarenakan meskipun tokoh tersebut tergolong antagonis namun sangat menjunjung nilai kesatria yang saya rasa lebih dari seorang Arjuna.

Selain dari televisi, ketika saya menginjak usia remaja dan menempuh pendidikan SMP di Bogor, om saya sering sekali meminjamkan buku kisah tentang pewayangan seperti Anak Bajang Menggiring Angin dan Perang karena kebetulan saya sering mengisi waktu luang dengan membaca novel. Cerita-cerita buku fiksi tersebut menurut saya sarat pemahaman dan nilai kehidupan, sangat seru karena penuh aksi, intrik yang membuat penasaran, penuh dengan kata-kata sastra sehingga bahkan saya dapat menyelesaikan buku-buku tersebut dalam waktu kurang dari 2 hari. Namun semakin ke arah jaman now, saya suka sekali menonton wayang kulit adalah lebih dikarenakan salah satu bentuk rasa bangga memiliki budaya yang ternyata tidak tergerus oleh jaman.

Jujur saja bahasa Jawa saya juga pas-pasan, namun justru menjadi lahan belajar agar lebih fasih meskipun masih agak pasif. Pesan pemerintahan, pesan agama, dan pesan moral juga biasanya turut disampaikan di dalam setiap pentas pewayangan. Misalnya akhir-akhir ini lebih sering tentang gempur rokok ilegal, semangat pemuda, dan mendukung pemerintahan. Saya juga sangat rindu dengan pentas dari Almarhum Ki Manteb Sudarsono yang cukup legendaris dengan perang gaya “kungfu”, sayang beliau sampun kepundhut Gusti Pangeran pada tahun 2021 silam. Beruntungnya ada situs Youtube yang siap mengabadikan agar dapat saya menonton kembali.

Selain cerita pewayangan yang membawakan pesan moral dan membuat malam saya menjadi merenung, lagu-lagu yang dilantunkan oleh sinden juga membuat saya lebih rileks selepas bekerja. Saya ikuti di sosial media Instagram bahkan masih ada sinden pria yang menjadi entertainer. Selain itu banyak juga sinden muda dari yang masih umur SMA hingga mahasiswa tahun akhir, makin hits lah ya. Saya salut dengan jiwa budaya para pesiden tersebut, nadi suara serta aura keanggunan mereka mengingatkan saya dengan para seniman budaya Didik Nini Thowok dan Hamzah Sulaeman. Bagi yang juga tertarik untuk menyimak wayang kulit dapat mengikuti Youtube Sanggar Cemara dan Nguri Budaya atau juga dapat search sesuai selera.

Kata orang karsa harus berimbang dengan rasa, pengetahuan harus berimbang dengat seni, teknologi beriringan dengan budaya. Life should be balance kan ya. Berikut video yang saya kutip dari Youtube Sanggar Cemara, ada rekaman yang cukup retro juga ternyata yaitu pentas Almarhum Ki Narto Sabdo yang terkenal dengan gubahan serta ciptaan gending lagunya. Salam lestari budaya, ada yang suka nonton wayang kulit juga?

This post is licensed under CC BY 4.0 by the author.

Efisiensi Query Join ke Object tanpa ORM

Sajak Kedua

Comments powered by Disqus.